Dalam sejumlah kegiatan literasi di sekitar Tasikmalaya, baik berupa diskusi sastra, peluncuran buku, maupun temu para aktivis Taman Baca Masyarakat (TBM), selalu muncul dalam perbincangan nama-nama baru penulis asal Tasikmalaya, khususnya dalam penulisan novel. Tentu saja ini sebuah fenomena baru, setidaknya bagi saya pribadi.
Selama ini aktivitas kepenulisan anak-anak muda di Tasikmalaya lebih didominasi oleh puisi, dan ini sudah berlangsung hampir tiga dekade. Banyak nama penyair muncul ke permukaan. Ada yang konsisten untuk terus berproses hingga berdarah-darah. Tidak sedikit juga yang pelan-pelan mundur dan menghilang. Ada yang menonjol ke permukaan, banyak juga yang meredup kemudian.

Tapi proses kepenyairan terus berlangsung secara alamiah. Atmosfir puisi masih memberikan aroma khas bagi udara Tasikmalaya, dan nama-nama penyair baru pun datang silih berganti. Mereka hadir untuk meneruskan tradisi.
Begitu juga penerbitan buku puisi, diskusi puisi, maupun lomba pembacaan (serta musikalisasi) puisi ikut menandai semaraknya dunia kepenyairan di wilayah Priangan bagian timur ini. Mungkin tidak berlebihan ketika sekali waktu saya dan kawan-kawan dengan penuh semangat memasang spanduk di tengah-tengah keramaian kota dengan bunyi: “Tasikmalaya Kota Puisi, Hukum Mati Pelaku Korupsi”.
Buku
Asep M Tamam adalah seorang dosen bahasa dan sastra Arab yang punya minat luar biasa pada dunia literasi. Selain membangun komunitas penulis di kampus-kampus tempat dia mengajar, dia pun membina para peminat literasi di madrasah-madrasah aliyah di sekitar kota dan kabupaten Tasikmalaya.
Beberapa nama, baik dari kalangan mahasiswa maupun siswa, diceritakan Asep sudah berhasil menulis novel dan menerbitkannya sebagai buku. Bukan hanya mahasiswa dan siswa, bahkan sejumlah guru madrasah juga mulai ikut aktif menulis dan menerbitkan buku.
Pada sebuah kesempatan diskusi dan peluncuran buku, Asep menceritakan beberapa nama seperti Ajeng Triani Putri yang menulis 6 buku novel dan nonfiksi; Alfi Hudori yang menulis 5 buku nonfiksi; dan Dede Syifa Izzatul Aulia yang menulis 6 novel dengan beragam cerita. Bahkan, Dede Syifa yang masih siswa madrasah aliyah, sebagian novelnya telah diterbitkan penerbit mayor.
Ajeng, Alfi, dan Dede merupakan lokomotif di komunitasnya. Di belakang mereka masih banyak nama-nama lain yang serius berproses. Mereka juga menerbitkan buku antologi bersama baik di komunitasnya sendiri maupun lintas komunitas.
Asep juga tak lupa menyebut nama Ida Nurhalida dan Eneng Sri Riskynayla, guru madrasah aliyah yang cukup produktif menulis. Juga nama Iwok Abqary, penulis cerita anak-anak dan remaja. Dan, terakhir, Fuad Hisyamudin, alumnus sebuah pesantren di Tasikmalaya bagian utara yang kini menulis novel panjang, Pancar, yang merupakan bagian pertama dari trilogi yang direncanakannya.
Tiba-tiba saya teringat pada Saeful Badar, salah seorang pendiri Sanggar Sastra Tasik (SST) yang pergerakan sastranya lebih memusat di sanggar. Di sana ia dan kawan-kawannya membuka diri secara terbuka bagi siapapun yang berminat dan berniat menggeluti dunia tulis-menulis, khususnya sastra. Dengan demikian kegiatannya lebih terjadwal dan terpusat, yakni di markas sanggar.
Adapun, kunjungan ke kampus, sekolah, atau pesantren sifatnya hanya sporadis atau pada saat event tertentu. Hal ini sedikit berbeda dengan Asep M Tamam, yang justru ia sendiri yang aktif mendatangi langsung kampus-kampus dan sekolah-sekolah hingga ke pelosok.
Dua gaya pergerakan ini menurut saya sama-sama penting dan bermakna. Dan kedua tokoh literasi ini secara tidak langsung telah saling mengisi bagi kehidupan sastra di Tasikmalaya.
Dan terbukti, baik lewat Saeful Badar dengan SST-nya maupun Asep M Taman dengan gerakan literasi lintas kampus dan sekolahnya telah melahirkan banyak penulis. Terbukti pula, sebagai mentor, kedua sosok ini memotivasi rekan-rekan atau katakanlah binaannya untuk selalu mempunyai target menerbitkan buku. Anggota SST sudah banyak yang menerbitkan buku, khususnya puisi. Begitu juga anak-anak binaan Asep M Tamam banyak yang sudah menerbitkan buku, khususnya novel dan nonfiksi.
Perbedaannya, paling tidak dalam pengamatan saya selama ini, Saeful lebih menekankan pada semangat dan ketulusan menjalani proses serta mentalitas sebagai penyair yang berdarah-darah. Sementara, Asep tampaknya lebih menekankan pada motivasi dan spirit dalam produktivitas menghasilkan karya, yang tentu saja ujungnya berwujud pada penerbitan buku.
Dalam hal Asep, unsur intensitas atau kekhusyukan dalam berproses mungkin agak kurang mendalam mengingat gaya pembinaannya bersifat massal dan selebral, bukan pembinaan personal yang sifatnya dari hati ke hati. Meskipun demikian, puluhan buku (kebanyakan bunga rampai atau kumpulan tulisan bersama) sudah berhasil diterbitkan dan diluncurkan secara meriah.
Pembaca
Selain nama-nama yang sering diceritakan Asep M Tamam di atas, dalam kurun yang hampir bersamaan saya juga mengenal novelis lain dari Tasikmalaya, yakni Vudu Abdul Rahman dan Alexandreia Indri Wibawa. Apa pun, paling tidak mereka sudah menerbitkan sebuah novel serta cerita pendek yang termuat dalam berbagai antologi bersama.
Vudu adalah seorang guru SD yang aktif menggerakkan literasi di sekolah dan lingkungannya. Selain menulis novel dan cerita, ia juga banyak menulis esai tentang pendidikan dan gerakan literasi. Sebagian dari esai-esai Vudu sudah diterbitkan sebagai buku yang lumayan tebal.
Sementara, Alexandreia adalah seorang sarjana hukum yang punya minat besar pada sastra dan seni rupa. Ia menulis sekaligus melukis secara serius di sela-sela kesibukan profesionalnya sebagai notaris.
Selain mereka berdua yang belakang muncul, tentu saja ada nama lain yang meski masih tergolong muda namun novel-novelnya sudah banyak beredar di masyarakat. Novelis yang sudah saya kenal cukup lama tersebut bernama Fauz Noor. Ia seorang santri yang kini mulai dikenal sebagai kiai muda yang intelek. Di samping menulis banyak novel, ia juga menulis esai-esai sosial, politik, agama, dan filsafat.
Pada usia 22 tahun, selepas dari nyantri di Pesantren Sukahideng, Fauz Noor menulis novel filsafat yang berjudul Tapak Sabda (2004). Novel ini kemudian dilanjutkan dengan Semesta Sabda (2005). Kedua novel ini menceritakan perjalanan seorang santri dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan substansial yang menghinggapinya. Ide ceritanya mungkin sedikit terpengaruh oleh novel Dunia Sophie yang terkenal itu, namun baik cerita, alur, tokoh dan latarnya jelas berbeda.
Kedua novel ini diterbitkan oleh penerbit LKiS Yogyakarta, yang kemudian disusul dengan buku filsafat yang berjudul Berpikir Seperti Nabi: Perjalanan Menuju Kepasrahan (2009).
Meski kedua novel pertamanya itu bergenre filsafat, yang di mata masyarakat umum kadang dianggap berat, namun cukup memikat pembaca juga. Ini terbukti dengan dicetak ulangnya novel-novel tersebut oleh penerbit. Fauz menyadari keberhasilan menarik minat pembaca salah satunya karena penerbit memanfaatkan jaringan santri dan pesantren dalam pemasarannya, yang cocok sekali dengan latar novel ini.
Delapan tahun kemudian Fauz Noor kembali menerbitkan novel berlatar pesantren yang berjudul Patung Cinta (2013). Kali ini tidak dengan penerbit LKiS lagi, namun kerja sama dengan sebuah penerbit indie di Bandung.
Secara pemasaran novel ini tergolong sukses hingga menarik minat sebuah penerbit besar di Jakarta, namun Fauz menolaknya dan lebih memilih lewat jaringan indie. Novel yang berlatar dunia pesantren ini sebenarnya tergolong berat juga, mempersoalkan modernitas dan kesetaraan gender di pesantren. Namun cara pengarang mengungkapkan gagasan besar tersebut lewat alur cerita dan romantika kehidupan di pesantren rupanya disukai pembaca.
Fauz Noor semakin menyadari pentingnya pembaca. Meskipun demikian, ia juga tidak berniat untuk menyuapi para pembaca dengan cerita-cerita yang diinginkan mereka. Sebagai pengarang, ia adalah seniman yang mempunyai kebebasan dalam berekspresi, yang mempunyai idealisme untuk mengangkat tema-tema tertentu yang diinginkannya, meski di sisi lain juga menyadari bahwa pembaca buku-bukunya sebagian besar dari kalangan pesantren.
Fauz Noor selama bertahun-tahun melakukan riset sejarah tentang kiprah kiai-kiai Tasikmalaya dalam perjuangan kemerdekaan. Riset ini dilakukan untuk dua hal yang disadarinya sejak awal, yakni sebagai bahan dalam penulisan desertasi dan sekaligus sebagai data untuk novel yang akan ditulisnya.
Rupanya jiwa kesastrawanannya ternyata lebih kuat. Dua novel biografi tentang pahlawan nasional KH HZ Musthafa dari Pesantren Sukamanah serta KH A Wahab Muhsin yang merupakan gurunya sewaktu nyantri di Pesantren Sukahideng, ternyata lebih dulu rampung ditulis ketimbang disertasi. Baru setelah disertasi selesai, dua novel biografi tentang KH Choer Affandi dari Pesantren Manonjaya diselesaikannya.
Yang menggembirakan, novel Syahadah Musthafa (2020) dan Cahaya Muhsin (2020) bukan hanya mendapat sambutan para santri dan alumni kedua pesantren, namun juga dari pesantren-pesantren lain. Dicetak masing-masing 8000 eksemplar dan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk terjual habis.
Masa pandemi rupanya membawa berkah tersendiri bagi Fauz Noor. Selama tahun 2021, kerika keadaan masih jauh dari normal, ia menulis terus dan menyelesaikan dua jilid novel Pembuka Hidayah dari tiga jilid yang direncanakan. Novel biografi tentang kiai dari Manonjaya ini penjualannya lebih dahsyat lagi karena menggunakan jaringan alumni dan cabang-cabang pesantren Miftahul-Huda yang tersebar luas di Indonesia.
Seperti biasa, novel dicetak pertama sebanyak 8000 eksemplar dan langsung terserap. Sekarang sudah dicetak untuk yang kedua kalinya.
Untuk novel-novel biografi ini, Fauz Noor tidak memakai penerbit mayor, namun menggunakan penerbit indie yang dikelola sendiri, yakni Sabda Books. Khusus untuk novel Pembuka Hidayah, pemasarannya bekerja sama dengan ikatan alumni pesantren.
Kritik Sastra
Ketika Asep M Tamam menceritakan nama-nama penulis Tasikmalaya beserta judul novel-novelnya yang sudah terbit, saya lebih mengapresiasi dari sisi kegigihannya sebagai mentor dalam memotivasi serta menyemangati anak didik dalam menjalani proses penulisan. Sekilas mungkin saya sudah bisa menebak atau membayangkan jenis seperti apa novel-novel yang mereka tulis itu, yang tentunya tidak akan jauh dari jenis novel-nopel pop biasa. Hanya latarnya saja yang berbeda, yakni latar kehidupan pesantren.
Tapi pandangan saya ini mungkin sudah kurang relevan bagi perkembangan sastra, khususnya novel, sekarang ini. Saya tidak tahu bagaimana mereka belajar, bagaimana mereka menyerap informasi, bagaimana mereka menjelajah berbagai kemungkinan dengan acuan novel-novel dari luar. Saya memang tidak melihat karya-karya mereka dipublikasikan terlebih dahulu di koran atau majalah, dan tahu-tahu sudah terbit.
Situasi dan kondisi sekarang sudah jauh berubah. Media cetak kondisinya sudah tidak seperti dulu lagi. Dengan demikian, mengapreasi mereka juga butuh cara pandangan baru.
Novel Pancar karya Fuad Hisyamudin sepintas seperti novel pop biasa yang bernuansa motivasi. Namun, secara tidak langsung kita juga terpesona oleh gambaran tentang perjalanan anak pesantren yang memasuki kehidupan modern. Kehidupan dan suasana di Negeri Sakura berhasil digambarkan dengan baik dan detail, dan tentu saja untuk hal ini dibutuhkan riset yang serius dan seksama. Menurut Fuad, novel yang diterbitkan secara indie ini lumayan banyak terjual lewat jaringan komunitas di darat, di samping jaringan online di udara.
Dalam kaitannya dengan kritik sastra, saya bayangkan hal-hal seperti di atas perlu menjadi bahan pertimbangan. Menilai novel-novel dari generasi sekarang ini tidak cukup hanya dari teks, dari tema atau alur, dari konvensional atau kontemporer. Pembaca juga harus menjadi pertimbangan, kenapa sebuah novel sangat disukai dan kenapa novel lain yang sejenis justru malah tidak laku.
Pembaca sekarang semakin banyak yang cerdas, kritis, dan tak sedikit yang menguasai bahasa asing, termasuk pembaca dari kalangan pesantren juga. Dengan demikian, kita akan lebih terbuka melihat kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan sebuah novel, dan tidak berhenti pada kasus novel pop versus novel serius. Tapi bagaimana respons pembaca, yang saya yakin bukan hanya ikut-ikutan tertarik dan membeli sebuah buku.
Sebagai saran untuk Balai Bahasa Bandung yang mengadakan penelitian dan penulisan kritik sastra, apa yang saya paparkan di atas bisa menjadi bahan pertimbangan. Setiap wilayah di Jawa Barat tentu mempunyai karakter dan kondisi yang berbeda satu sama lain. Di Tasikmalaya sendiri, misalnya, baru belakangan ini novel-novel marak ditulis dan dibeli pembaca. Dan menurut saya ini cukup menarik untuk ditelisik lebih jauh.
Sementara di Kuningan, wilayah lain di Jawa Barat, beberapa novel dengan latar sejarah dan masa depan Kuningan itu sendiri sudah terbit lebih duluan, tentu saja dengan strategi pemasaran dan jaringan pembaca yang berbeda dengan Tasikmalaya. Pandu A Hamzah, yang mengelola Penerbit Silalatu, lebih cenderung membidik jalur sekolah dan kampus dalam pemasarannya dengan mengadakan acara-acara yang sifatnya apresiatif di kalangan siswa dan mahasiswa.
