Bahkan tokoh kafir penentang paling lantang terhadap Nabi Muhammad pun memperoleh hikmah dari bulan kelahiran Nabi. Apalagi bagi kaum beriman, Rabiulawal atau yang kerap dikenal bulan maulid menjadi bulan yang selalu dirindukan.
Ada sebuah narasi klasik tentang Abu Lahab, figur antagonis dalam sejarah Islam. Diceritakan, Abu Lahab menyambut dengan bahagia ketika keponakannya, Muhammad bin Abdullah, putra dari adiknya, Abdullah dan Siti Aminah, lahir. Pada hari Senin, begitu mendengar kabar bahagia tersebut, Abu Lahab langsung memerdekakan budak perempuannya yang bernama Tsuwaibah.

Namun, ketika Muhammad tumbuh dewasa dan menyebarkan ajaran Islam sebagai seorang nabi, Abu Lahab justru menjadi tokoh utama penentang dakwahnya. Ia begitu keji memusuhi Nabi Muhammad, hingga namanya diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Lahab. Kekafirannya tidak pernah luntur; Ia masih setia menyembah berhala hingga mengembuskan napas terakhirnya.
Kisah ini diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib, paman dari Nabi Muhammad. Dalam sebuah mimpi, Abbas bertemu dengan Abu Lahab dan bertanya “Bagaimana keadaanmu?”
Abu Lahab menjawab, “Seperti yang engkau lihat saat ini, siksaan yang tiada henti setiap hari. Kecuali pada hari Senin, Allah meringankan siksaku, karena aku ikut menyambut dengan bahagia kelahiran Muhammad bin Abdullah.”
