Laras diam. Tapi pikirannya tidak. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa malam itu. Bukan hanya karena warna bulan, tapi karena desahan tanah yang seperti merintih di balik akar-akar pohon. Karena cicit tikus di loteng terdengar seperti bisikan. Karena embun tak lagi bening, tapi keruh.
***

Pukul dua dini hari, Laras terbangun. Dadanya sesak. Ada suara mengetuk-ngetuk lantai kayu, pelan tapi teratur. Seperti tetes air yang jatuh dari langit yang tak tampak. Tapi ini bukan air. Ini berat. Ini seperti sisa langkah seseorang yang pernah pergi dan lupa jalan pulang.
Ia turun dari tempat tidur, berjalan mengikuti suara itu, menuruni tangga tanpa menyalakan lampu. Rumah itu sepi, tapi keheningannya seperti menyimpan napas. Dan di beranda, ia melihatnya: seorang perempuan berdiri di bawah sinar bulan merah. Gaunnya putih, tapi lusuh seperti telah dihujani tanah dan waktu.
“Siapa kamu?” tanya Laras. Suaranya tak bergetar, tapi jiwanya melakukannya.
Perempuan itu menoleh perlahan, dan matanya—oh, matanya—seperti mengandung langit yang patah. Di pipinya, bukan air mata yang mengalir, tapi darah tipis yang jatuh seperti anak sungai.
