“Aku dulu pernah jadi kamu,” katanya. “Tapi kamu tak pernah jadi aku.”
Laras mundur selangkah, tetapi perempuan itu mengangkat tangannya. Bukan untuk mengancam. Hanya menunjuk ke dada Laras.

“Kau menyimpan terlalu banyak luka. Mereka bukan hanya milikmu.”
Laras tiba-tiba tersadar. Ia tahu perempuan itu. Bukan dari foto, bukan dari kenangan, tapi dari rasa yang selama ini ia tekan: kehilangan ayah yang tak pernah pulang, ibu yang diam-diam menangis di dapur, dan malam-malam penuh doa yang tidak pernah dijawab.
“Bulan menangis darah karena bumi sudah terlalu banyak menyembunyikan kesakitan,” kata perempuan itu. “Kita mengira tangisan hanya milik manusia. Tapi langit juga bisa terluka.”
Perempuan itu berjalan mundur, menghilang di balik cahaya bulan yang kian temaram. Dan ketika Laras membuka mata keesokan paginya, ia masih berdiri di beranda, sendirian. Hanya bulan yang tersisa, kini sudah kembali pucat, seperti tak pernah berdarah semalam.
