Caligula

Caligula terlahir sebagai cucu Kaisar Tiberius. Ia sangat berambisi menjadi kaisar seperti kakeknya. Sayangnya, Caligula tak berdarah biru. Sebab, status ayahnya yang mati secara misterius, Jenderal Germanicus, hanyalah anak angkat dari Tiberius. Sementara, Tiberius juga memiliki cucu lelaki, yang merupakan darah dagingnya namum belum cukup umur, yang kepadanyalah takhta akan diwariskan. Tak sabar untuk naik singgasana, Caligula bersekongkol dengan Marco, orang kepercayaan Tiberius, untuk membunuh sang kakek. Setelah Tiberius terbunuh, Caligula pun menjadi kaisar.

Pada masa-masa awal kekaisarannya, Caligula yang naik takhta di usia 25 tahun itu segera memperoleh simpati dari publik. Sebab ia gemar menyenangkan hati rakyatnya, yang jika dilihat dari kacamata hari ini, program-programnya tergolong populis. Tentara diberi banyak bonus. Pajak-pajak yang mencekik leher dihapus, dan para tahanan politik dibebaskan. Namun “kebaikan” Caligula hanya seumur jagung. Segera ia menjadi penguasa lalim. Para pesaing dan lawan-lawan politiknya, yang berpotensi mengganggu kekuasaannya, segera dihabisi. Korban pertama adalah Marco, yang ia suruh membunuh Tiberius. Korban selanjutnya adalah sang pewaris takhta yang sah, Tiberius Gemellus.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah para pesaing dan lawan politiknya habis, Caligula memerintah secara ugal-ugalan. Ia kuras kas negara untuk biaya melanggengkan kekuasaannya, untuk menyuap siapa saja yang perlu disuap, untuk pesta pora, termasuk pesta seks bebas. Bahkan untuk membiayai perang yang tidak pernah dilakukannya.

Suatu waktu, Caligula memimpin pasukannya untuk menyeberang lautan guna menyerang Inggris. Namun, ia bersama pasukannya hanya sampai rawa-rawa, dan tidak pernah menyeberang ke Inggris. Bahkan, mereka tidak tahu letak Inggris di mana. Ketika yang terbentang di depan mata hanyalah hamparan tanaman papirus, Caligula tetap menitahkan pasukannya untuk menyerbu. “Saya butuh bukti kemenangan dalam perang,” katanya.

Tinggalkan Balasan