Akhirnya pasukan Caligula pulang membawa bergebok-gebok tanaman papilus sebagai bukti kemenangan perang. Bukti kemenangan perang palsu itu dipamerkan dalam sidang senat, dan dengan itu Caligula mendaku dirinya sebagai pemenang perang, pemimpin besar, yang lebih hebat dari kaisar-kaisar sebelumnya. Bahkan, dalam sidang senat itu, Caligula mendaku dirinya sebagai dewa atau tuhan. Tak ada yang berani bersuara ketika seekor kuda kesayangannya pun dijadikan pejabat tinggi negara. “Akulah tuhan!” katanya.
Akhirnya Romawi pun bangkrut. Kas negara kosong. Tapi situasi itu tidak membuat Caligula sadar. Justru semakin gila. Ia tak mau berutang. Ia mau merampas korporasi-korporasi besar, milik siapa saja, untuk dikuasai negara, dikuasai dirinya. Seperti nasionalisasi hari ini tapi tanpa konsesi. Tidak cukup, Caligula sudah benar-benar gila! Ia menggelar bazar seks di paviliun kekaisaran. Tidak tanggung-tanggung, yang ia jual dalam bazar seks tersebut adalah para istri anggota senat, yang memang cantik-cantik. Dari merampas korporasi-korporasi besar milik rakyatnya dan menjual istri-istri anggota senat itulah Caligula mengumpulkan uang untuk membiayai kekuasaannya.

Para pejabat tinggi kekaisaran akhirnya muak dengan situasi itu. Mereka menganggap kaisarnya sudah benar-benar gila. Mereka kemudian bersekongkol untuk membunuh Caligula. Persekongkolan itu dipimpin Cassius Chaerea, pengawal pribadi kaisar. Pada 24 Januari 41 M, Caligula dibunuh secara brutal oleh pasukannya sendiri.
“Aku tidak akan mati,” kata Caligula ketika Chaerea menusukkan belati ke perutnya untuk terakhir kalinya. Sepertinya Caligula memang tidak mati-mati. Ia adalah preseden. Siapa saja bisa meniru kegilaannya, sedikit banyak, dalam versinya yang berbeda, sampai dua ribu tahun kemudian.
