Pada masa pesantren diasuh oleh Aang Endang, banyak ajengan (sebutan untuk kiai/ahli agama di tanah Sunda) yang belajar mengaji kembali dengan Aang Endang. Bahkan banyak dari mereka yang sudah memiliki pondok pesantren sendiri. Mereka merelakan waktunya, meninggalkan keluarga dan santrinya, untuk mengaji kembali kitab-kitab yang sudah dipelajari sebelumnya ketika masih di pondok pesantren.
Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin RA adalah salah satu santri Pondok Pesantren Daarul Falah pada masa kepemimpinan KH AA Fachrudin ini. Beliau merupakan pemimpin Thariqoh Qadariyah Naqhshabandiyah (TQN), sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Buah hasil kesabaran dan keikhlasan KH Aa Fachrudin mampu menjadikan salah satu santrinya menjadi ulama besar yang berpengaruh dan dikenal banyak orang.

Tak berbeda dengan orang tua dan para pendahulunya, Aang Endang pun menjadi salah seorang ulama yang berpengaruh pada masanya, bukan hanya anak-anak santri, bahkan banyak pula kiai yang belajar agama dengannya. Tidak hanya berasal dari kalangan pondok pesantren, banyak pelawat yang berdatangan dari kalangan elite pemerintah, pengusaha, militer, dan masih banyak lagi, untuk ber-tabarruk atau dengan istilah lain “ngalap berkah” kepadanya, melalui doa-doa yang dipanjatkan olehnya.
Di antara contohnya adalah Jenderal Besar TNI H M Soeharto, Presiden kedua Indonesia, sudah beberapa kali datang ke Pondok Pesantren Daarul Falah. Di tengah kesibukannya sebagai orang nomor satu di Indonesia saat itu, Pak Harto menyempatkan waktunya untuk sekadar bersilaturahim dengan Aang Endang dan meminta doa kepadanya. Ada banyak keterangan yang menyebutkan bahwa Presiden Soeharto menjadikan Aang Endang sebagai guru spiritualnya. Dalam beberapa kesempatan, Aang Endang pernah diundang untuk mengunjungi Istana Merdeka di Ibu Kota.
