Ramadan tahun ini, ngaji kitab kuning di Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ihsan ini diikuti 28 santri dari berbagai daerah di Tanah Air. Mereka ada yang datang dari Batam dan Lampung. Di sini, ngaji Nihayati az-Zain dilakukan dengan “luhgoh” (membaca) menggunakan bahasa Jawa dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Sunda.
Bisa dipastikan, para santri yang mengikuti pengkajian Kitab Nihayati az-Zain sudah mampu membaca “kitab gundul” secara etimiologi bahasa dan harkat dengan benar sesuai ilmu nahwu dan shorof. Di sini, santri mengisi waktu selama 24 jam hanya untuk mengaji.

Tradisi yang sama juga dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Hasanah Rangkasbitung. Seperti Ramadan sebelumnya, tahun ini kebanyakan santri yang datang untuk ngaji kitab gundul berasal Kabupaten Lebak dan Bogor, Jawa Barat. Seperti di pondak salaf pada umumnya, di sini santri membuat coretan-coretan di atas kertas kitab gundul dengan menggunakan tinta untuk memaknai isi kitab. Sebab, kitab yang digunakan huruf-hurufnya belum memiliki tanda baca seperti “dzoma”, “fathah”, dan “kasrah”.
