Kang Amad yang tak tahu nama santri yang dimaksud dan di mana kamarnya hanya bisa menatap Husein dan Sholeh. Tatapannya seakan berarti, “tolong!”
“Mudrikah Zakaria, Bah,” jawab Sholeh dengan sopan.

“Kamar Bukhara,” tambah Husein.
“Terima kasih. Saya akan ke sana untuk menjenguknya.” tukas Abah Toha singkat.
“Mari saya antar, Bah,” tawar Kang Amad.
“Terima kasih, Mad” jawab Abah Toha.
“Wassalamu’alaikum,” pamit Abah Toha dan Kang Amad.
Setelah menjawab salam Abah Toha dan Kang Amad, tiga pengurus komplek putra yang tinggal, saling pandang. Meski tak satu katapun muncul dari mulut, mereka punya pikiran yang sama. Mereka begitu yakin apa yang mereka bicarakan sebelum Abah Toha datang adalah suatu kebenaran.
Kamar Bukhara sama sekali tak siap dengan kedatangan Abah Toha. Sesaat sebelum pengasuh Nibrosul ‘Ulum itu uluk salam, banyak penghuninya yang tengah bertelanjang dada. Mereka berpencar di sudut-sudut kamar. Sebagian besar sedang khusyuk mengobrol. Beberapa sedang asyik membaca novel. Sebagian kecil sedang mendiskusikan materi pelajaran yang diajarkan di madrasah diniyah tadi.
Yang pertama akan menyambut kedatangan Abah Toha adalah galon air yang tersungkur. Sisa air di dalamnya tumpah dan menimbulkan genangan kecil. Kasur lantai tumpang tindih tak karuan di tengah. Hanya kasur Mudrikah yang tergelar. Pemiliknya berbaring di atasnya. Ia hanya diam meski terjaga. Matanya menatap langit-langit. Pandangannya tampak kosong. Teman dekatnya, Ilyas, duduk di sampingnya. Ilyas tengah asik mengisi teka-teki silang yang ia dapat dari bungkus nasi uduk, menu makan malamnya tadi.
Situasi panik sejenak mendera penghuni Kamar Bukhara kala Abah Toha masuk. Ucapan salamnya seakan menjadi tiupan sangka kala Israfil yang mengalutkan. Mereka yang bertelanjang dada langsung kocar-kacir mencari baju. Setelah menemukan baju, mereka langsung berbaris rapi untuk bersalaman dengan Abah Toha. Mudrikah berusaha berdiri untuk ikut bersalaman juga, namun dengan isyarat tangan, Abah Toha mencegahnya.
“Bagaimana kondisimu, Nak?” tanya Abah Toha.
“Baik, Bah. Alhamdulillah. Sudah mendingan,” jawab Mudrikah lirih.
“Maaf, Bah,” tambah Mudrikah. Kali ini suaranya terdengar lebih keras.
“Maaf untuk apa, Nak?”
***
Masjid Manba’utstsaqafah dipadati santri Nibrosul ‘Ulum pagi itu. Mereka menjalanankan rutinitas tahlilan setiap Jumat pagi dengan khusyuk. Beberapa santri terkantuk-kantuk setelah semalam begadang menikmati akhir pekan, termasuk Mudrikah. Mudrikah begadang hingga jam tiga untuk membaca novel yang ia pinjam dari tetangga kamar. Karena pinjamannya jatuh tempo pada Jumat siang, ia memutuskan untuk begadang demi menamatkan novel rilisan terbaru itu.
Ia ikut mengangguk-angguk ketika bacaan tahlil dirapalkan oleh santri seisi masjid, namun dengan mata terpejam. Ia tak kuasa membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat. Ajaibnya, matanya mendadak segar kala Abah Toha merapal doa sapu jagat sebagai bacaan pamungkas tahlil.
Matanya boleh saja langsung siap siaga, tetapi tidak dengan kakinya. Kakinya kram karena Mudrikah tidur dengan posisi bersila. Mudrikah meluruskan kakinya dan bersantai sejenak. Setelah beberapa saat, kakinya pulih.
Ia langsung tancap gas pulang ke komplek dan berganti baju. Setelah itu, ia buru-buru pergi ke belakang kamar. Ia mengambil sebuah ember bekas cat kiloan. Ember tersebut sarat akan baju kotor. Ada baju seragam sekolah, beberapa kain sarung, selimut, dan celana dalam.
Setelah memastikan baju kotornya lengkap dan semua alat cuci terbawa, ia langsung pergi ke tempat pencucian baju yang terletak di dekat kamar mandi. Tempat itu berupa bak air panjang yang di kanan-kirinya terdapat sebidang tanah yang dikeramik.
Kendati telah buru-buru pulang dari masjid selepas tahlilan, nyatanya Mudrikah tidak mendapatkan tempat untuk mencuci. Tempat pencucian baju telah penuh sesak dipadati santri. Di belakang dan kanan-kiri santri yang sedang mencuci juga sudah terparkir banyak ember yang sarat akan baju kotor. Ember-ember tersebut adalah perwakilan pemiliknya yang sedang mengantre tempat untuk mencuci.
“Masa aku harus mengantre sebelum Subuh, sih?!” gerutu Mudrikah di samping kamar mandi.
Ia kesal bukan main karena mendapati antrean panjang untuk mencuci baju. Ia juga menyesal karena tidak mencicil untuk mencuci baju kotornya setiap hari. Padahal ia sudah tahu betul bahwa hari Jumat yang merupakan hari libur adalah waktu favorit bagi santri untuk mencuci. Namun, ia masih nekat mencuci pada hari tersebut.
Ia mengantre dengan pikiran yang gondok dan mata yang perih. Ia kurang tidur tadi malam. Keadaan juga diperparah dengan perutnya yang kosong melompong. Mudrikah yang sudah senewen, meninggalkan antrean dan berjalan menyusuri koridor kamar mandi yang panjang. Ia tak tahu apa yang hendak ia perbuat.
