Dilarang Mencuci di Wangan*

Tak terasa, ia telah selesai menyusuri koridor kamar mandi dan sampai di area jemuran. Jemuran pagi itu masih kosong karena para santri masih sibuk mencuci baju-baju kotor hasil tabungan mereka selama seminggu.

Pemandangan di samping jemuran begitu indah. Ada jalan setapak yang menurun. Di kanan-kirinya terdapat rumpun bambu yang begitu lebat. Jalan tersebut terlihat seperti terowongan berwarna hijau.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah beberapa bulan mondok, Mudrikah baru menyadari adanya jalan setapak itu. Pemandangan ini biasa tertutupi oleh jemuran yang penuh sesak. Mudrikah yang penasaran menyusuri jalan tapak tersebut. Semakin disusuri, jalan semakin menurun. Jalan setapak berganti menjadi anak tangga terbuat dari tanah yang diselimuti lumut. Suasana di dalamnya temaram namun menyejukkan.

Setelah menuruni puluhan anak tangga, Mudrikah menemui jembatan kecil yang terbuat dari batang pohon kelapa. Di bawahnya terdapat wangan yang dialiri air yang begitu jernih. Dasar wangan yang dangkal terlihat dengan jelas. Di sebalah kiri-kanan aliran wangan, terdapat beberapa batu besar. Meski matahari sudah mulai terik, keadaan di sekitar wangan tak terasa panas. Banyak pohon berdaun rindang yang tumbuh di tepi wangan.

Tanpa pikir panjang, Mudrikah langsung naik lagi ke atas dan mengambil embernya yang sarat akan baju kotor. Ia kembali ke wangan dan mencuci di sana dengan nyaman. Ia juga mandi di air wangan yang begitu segar.

***

“Tidak apa-apa, Nak. Itu bukan kesalahan yang fatal. Tapi jangan diulangi lagi,” jawab Abah Toha disertai seulas senyum. Ia tampak bak seorang bapak yang melihat anak kecilnya terjatuh saat belajar berjalan.

“Tapi, gara-gara itu, saya sakit begini, Bah. Pasti itu kesalahan besar. Kata kakang-kakang pengurus saya kualat karena melanggar larangan Abah Kholid. Mohon maaf, Bah. Saya tidak tahu,” jawab Mudrikah lirih. Di setiap kata yang terucap, terasa nada penyesalan yang mendalam.

“Orang yang belum tahu berarti belum mukallaf, belum dibebani larangan dan perintah,” hibur Abah Toha.

“Atau mungkin saya ketemper penghuni wangan, Bah? Saya telah lancang mengganggu kerajaannya,” tutur Mudrikah. Kali ini wajahnya terbersit rasa takut. Keringat dingin bercucuran dari dahinya.

“He-he-he…,” Abah Toha hanya terkekeh.

“Saya takut, Bah,” timpal Mudrikah.

“Jadi, begini. Kamu sakit bukan karena jin atau apa. Sekarang, saya tanya, apakah di malam sebelum mencuci di wangan, Kamu begadang, Nak?” ucap Abah Toha.

”Iya, Bah. Saya lembur untuk membaca novel,” jawab Mudrikah sambil tersenyum kecut.

“Nah itu, kamu masuk angin karena mencuci dan mandi di wangan setelah begadang. Kamu kemasukan angin, bukan kemasukan roh halus,” jelas Abah Toha sambil menahan tawa.

Kang Amad yang duduk di belakang Abah Toha ikut mengangguk-angguk. Sejak awal mereka menyimak dengan seksama dialog antara Mudrikah dan Abah Toha.

Mendengar apa yang dikatakan Abah Toha, Mudrikah hanya menggaruk-garuk rambut meski tak gatal. Ia malu karena ketahuan begadang hanya untuk membaca novel.

“Punten, Bah. Maaf saya lancang. Saya izin bertanya,” ujar Kang Amad tiba-tiba.

Abah Toha yang awalnya membelakangi Kang Amad, berbalik arah.

“Silakan,” jawab singkat Abah Toha.

“Apakah benar Almaghfurlah Abah Kholid melarang santri Nibrosul ‘Ulum mencuci baju dan mandi di lebak sana?” tanya Kang Amad.

“Ini yang saya ingin sampaikan. Abah memang melarang santri untuk mandi atau mencuci di wangan lebak sana. Alasannya bukan karena di sana ada dedemit atau apa, tapi karena air wangan mengalir ke blumbang-blumbang warga. Jika air wangan tercemari sabun, ikan-ikan blumbang akan mati,” jelas Abah Toha.

*Satu dari Tiga Cerpen Pilihan Lomba Penulisan Ekologi Kaum Santri.

Ilustrasi gambar: I Ni Ar(t)chive.

Tinggalkan Balasan