tarian laron.
Bergegaslah Sebelum gelap meracau

gugus gemintang, petamu
menuju sebenar-benarnya arah pulang.
****
Arloji Tua
Arloji tua itu
Tetap berjalan, mendenting kadang dan
Pertanda, ada yang terlewat.
Gaung sorak sorai, mengepul
Juga bersama asap kretek, cintamu
Yang terkurung di kotak kecil berwarna
“Dari anak haram kemajuan”, kataku,
Mungkin juga katamu, bahwa
Kita sepakat untuk terkurung dan sendiri.
Tapi arloji tua itu
Berjalan tetap, pada janjinya
Dan selalu ada yang terlewat.
Lalu petani pulang, kusam
Legam, dan kita bertatap.
“Apa yang sebenarnya terjadi”, tanyamu
Pada kebisingan masing-masing, tawa
Kedustaan pada dirimu yang asing.
Detik dan luang telah lewat dan terbayar
“Mari pulang”. Sebelum kita
Benar-benar lalai, lalu dipaksa
Pulang. Sebelum arloji tua jumpa
Pada titik penghianatannya
