JALU

Kenangan bagi Jalu adalah serupa paku-paku yang ditusukkan paksa ke sekujur dedaging dan telulangnya yang kurus kerempeng. Menyakiti dan membikin infeksi. Namun sebagaimana paku-paku yang mematri kayu-kayu menjadi perkakas, apalah itu meja, kursi atau lemari, maka bagi Jalu paku-paku kenangan itupun adalah yang merekatkan dirinya membentuk Jalu yang sekarang. Melepaskan paku-paku adalah sama merusak perkakas. Meja, kursi, dan lemari tidaklah lagi meja, kursi, dan lemari tanpa paku-paku. Mereka adalah serangkaian kayu-kayu saja. Tanpa kenangan-kenangan itu, barangkali, Jalu pun tidak akan pernah ada.

Di pagi dini hari, bahkan ketika jam belum sampai menunjuk sempurna ke pukul dua tepat, Jalu terbangun dengan hantu di kepalanya. Mimpi-mimpi yang menemaninya sejak dia mulai bisa mengingat. Api menjilat melumat habis rumahnya. Bapaknya yang tertimpa saka rumahnya. Ibunya yang gosong dengan mukena membungkus tubuhnya. Adik-adiknya yang berteriak sia-sia ketika api sudah membakar separo tubuh mereka. Juga ia, yang tertidur antara sadar dan tidak dalam pelukan kakak perempuannya yang menggosongkan diri demi ia bisa hidup sampai detik ini. Detail itu selalu tergambar sangat jelas dalam setiap mimpinya. Dan di pengujung mimpinya, Jalu tersengal-sengal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia menengok jam kecil di samping bantalnya. Selalu jam dua pagi yang bahkan belum sempurna, karena jarum jam panjangnya bahkan belum melewati angka sepuluh. Jalu menyibakkan selimut lusuhnya, bangkit dan mengenakan sarungnya. Teman-teman sekamarnya terlihat masih pulas, bahkan ketika kereret suara pintu berderit terdengar begitu Jalu membuka pintu. Jalu melawan dingin, berjalan menuju surau di tengah pesantren. Ia mengambil wudlu, sholat empat rakaat dan membaca al-Mulk, surat yang selalu ia dengar dalam mimpi-mimpinya tentang ibunya, sebelum api menjilat habis seisi rumahnya. Jalu menangis terisak-isak, dengan bayangan keluarganya yang kini tiada. Semakin membaca, semakin serak, semakin terisak-isak. Ibunya, dan wajah keluarganya semata yang membayang di pelupuk mata. Dan bersahut-sahutan dengan suaranya membaca al-Mulk, ada suara ibunya.

Di pintu surau, Kiai Soleh mengusap ujung matanya yang basah. Beliau telah menyaksikan pagi yang sama, pagi di mana Jalu menangis, sejak belasan tahun yang silam, ketika Jalu pertama-tama menjadi bagian dari pesantren ini. Ketika Jalu bahkan belum fasih mengeja a–ba–ta–tsa. Ketika Jalu bahkan belum mengenali ingatannya tentang surat al-Mulk yang dulu selalu dibaca ibunya di setiap dini hari yang penuh gigil. Kiai Soleh-lah yang melihat dan menyaksikan, dengan begitu dekat, rasa kehilangan yang dialami Jalu.

*

Pesantren Nurussholihin ini adalah pesantren kecil di sebuah pelosok desa yang jauh dari gemerlap dan gegap gempita kota-kota. Di sekeliling pesantren, ada sawah beberapa petak dan tambak yang diolah para santri. Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam, juga bebek dan entok. Kiai Soleh, yang sederhana dan bijaksana itulah yang dengan telaten mengajari para santri tak hanya mengaji, tapi juga mengolah sawah, tambak, dan beternak. Mereka yang mengaji dan belajar disini adalah anak-anak kampung yang papa, beberapa bahkan tidak punya keluarga, seperti Jalu. Dan memang tak ada sepeser uang pun yang harus mereka bayarkan untuk bisa nyantri di sini. Nyantri di sini tidak perlu mbayar, asal mau, demikian dawuh Kiai Soleh.

Demikian juga Jalu, yang hanya karena belas kasih Tuhan semata, belasan tahun lalu ditemukan Kiai Soleh di dusun yang terbakar habis tak jauh dari pesantren ini. Dan semenjak saat itu, hiduplah Jalu di sini, dengan hantu di kepalanya yang tak lenyap-lenyapnya, dan kasih sayang Kiai Soleh yang setidak-tidaknya membuatnya tak tega mengakhiri hidupnya sendiri.

Bersama puluhan santri yang lain, Jalu mengaji dan bekerja. Ia-lah yang paling rajin mencangkul sawah, menyiangi rumput, dan memberi makan kambing-kambing di halaman belakang. Dan tentu, dialah yang paling muram di antara semuanya. Seolah segala beban penderitaan di dunia hanya dia yang menanggungnya.

“Jalu nggak lelah?” tanya Amad, salah seorang santri seumuran Jalu, yang sedang memberi makan ayam dan unggas lainnya.

Jalu yang kakinya penuh lumpur karena habis mencangkul kini tengah sibuk membersihkan kandang kambing dan mengganti rumput yang kering dengan rumput yang segar. Mendengar pertanyaan Amad yang tidak jauh darinya, ia hanya menoleh sekilas dan menggeleng. Gelengan yang seolah-olah berkata: “Bagaimana mungkin kau merasa lelah jika seumur hidupmu kau menanggung hantu di kepalamu dan hanya dengan bekerjalah kau lari dari mereka?”

Amad mengangguk. Semua di sini mafhum. Jalu yang bekerja begitu keras sebagai kompensasi atas rasa-rasa menakutkan yang menghantuinya lebih dari siapa pun di tempat ini.

“Dilanjutkan nanti, sebentar lagi pengajian dimulai,” ucap Amad sambil menunjuk matahari. Jalu mengangguk.

Dan menjelang matahari di sepenggalah, suara santri mengaji di surau terdengar bersahut-sahutan. Lalu lengang seketika begitu suara lembut Kiai Soleh mengucapkan salam dan memberi pelajaran-pelajaran. Dan begitulah kehidupan berjalan di sebuah pesantren kecil itu. Mengaji, mengaji, lalu bekerja. Lalu mengaji lagi, dan bekerja lagi. Di waktu senggang, surau nyaris tak pernah sepi dari santri yang mendaras Al-Quran berganti-gantian dengan mereka yang bekerja mengurus sawah, tambak dan ternak.

Namun selalu, di setiap dini hari antara jam satu sampai dua, hanya Jalu-lah yang sedingin itu mengaji al-Mulk. Menyimpan ingatan purbanya tentang ibunya yang telah tiada.

Dulu, pada umurnya yang ke sembilan, empat tahun setelah tinggal di pesantren ini, Jalu yang sudah mulai bisa membaca Al-Quran tidak sengaja mendengar Kiai Soleh mendaras di kamar beliau. Jalu yang tengah menyapu terduduk di depan pintu kamar. Menangis karena alunan suara Kiai Soleh membangunkan ingatan Jalu tentang ayat-ayat yang selalu dilantunkan Ibunya dulu sekali. Ketika Kiai Soleh membuka pintu kamarnya, beliau menemukan Jalu menangis terisak-isak sambil bersujud di sana, berganti-ganti menyebut Allah dan ibunya. Dan sejak itulah Kiai Soleh mengajari Jalu mengaji al-Mulk, yang kemudian didaras Jalu setiap pagi sampai pagi ini.

Tinggalkan Balasan