Penyakit di tubuh Islam cepat menular ke bagian lain yang mengancam kedamaian dunia. Meskipun hanya “sedikit”, namun aksi nekatnya (teror dan bom bunuh diri) berhasil mengusik keamanan negara. Mereka yang merasa menjadi korban atas kebengisan terorisme selalu merasa terancam di negeri yang mayoritas berpenduduk Islam. Meskipun dialasi teror bukan ajaran Islam, namun identitas dan personalitas pelaku menunjukan bahwa pelaku memang seorang muslim.
Wajah Islam tercoreng. Sedangkan pelaku masih kokoh berpendirian memusnahkan sistem kekafiran dengan jalan terorisme. Tidak ada yang ditakuti, mati pun sekalian. Ketika doktrin sudah tertancam kuat di otak pelaku, keyakinan atas kebenaran relatif terorisme akan selalu dibenarkan. Masa bodoh dengan perbedaan tafsir dan pandangan dalam memahami Islam, sebab impian surga dengan jalan terorisme sudah diimani kebenarannya.

Pencekokan Wahabisme
Sekte wahabisme beberapa tahun terakhir muncul sebagai “ancaman baru” konflik abadi Sunni dan Syiah. Mengusung pemurnian Islam dengan ajakan kembali ke Al-Quran dan hadis menambah daftar konflik internal di dalam Islam. Mohammad Ibn Abd al-Wahhab adalah tokoh yang dijadikan acuan dalam memahami kompleksitas Islam. Meskipun bukan pemikir (ulama) dominan ketika itu, kemenangan politik di Arab Saudi berhasil membawa pengaruh besar pada ajaran Islam modern.
