وَفِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
Artinya: Dan di Bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan iar yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman itu di atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian.

Menurut Prof Quraish Shihab yang disebutkan dalam tafsir Al Misbah, ayat tersebut menjelaskan tentang kebesaran dan kekuasaan Allah yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan karakter Bumi dengan melihat adanya kepingan-kepingan tanah yang saling berdekatan dan berdampingan namun kualitasnya berbeda-beda. Ada yang tandus, ada pula yang subur, dan ada juga jenisnya sama yang ditumbuhi oleh tumbuhan yang berbeda. Selain itu, perbedaan juga ditemukan dalam warna, sifat, dan bentuk.
Dalam Tafsir Al Muntakhab dijelaskan bahwa ayat ini mengisyaratkan adanya ilmu geologi, geofisika, dan ilmu lingkungan hidup (ekologi) serta pengaruhnya terhadap sifat-sifat tumbuhan.
Dari sini dapat dipahami bahwa identitas gender juga dialami oleh tumbuhan dan makhluk hidu lainnya. Namun, perlu digarisbawahi bahwa terdapat perbedaan yang mendasar bagi klasifikasi karakter dalam diri manusia dan ekologi alam. Bagi manusia, karakter, peran, dan fungsi memiliki sisi positif dan negative. Namun tidak demikian halnya pada ekologi alam. Sebab, alam raya selalu patuh pada ketetapan yang Allah berikan atasnya. Jika terdapat karakter pada alam yang membawa dampak negatif, hal itu merupakan hasil perbuatan manusia yang menyalahi sistem kerja alam.
Pengenalan alam melalui analisis gender yang dideskripsikan dalam Al-Qur’an tak lain merupakan salah satu upaya penjagaan lingkungan melalui pendekatan agama, sebagaimana gerakan ekofeminis, yaitu upaya kesetaraan gender bagi manusia dalam memperjuangkan hak eksistensinya hidup bermasyarakat. Adanya pengklasifikasian tersebut juga sebagai bentuk eksistensi alam yang perlu kita jaga dan merawatnya Bersama-sama, karena makhluk yang hidup di Bumi juga memiliki jiwa, karakter, dan fungsi masing-masing.
*Naskah peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri 2024.

Al-Quran memiliki peran besar dalam membangun kebaikan alam. Al-Quran tidak dapat dipisahkan dengan kondisi alam, baik di bumi maupun di darat. Tinggal bagaimana manusia memperlakukan kondisi alam secara bijak agar generasi mendatang dapat menikmati keaslian dan keasrian alam sekitar.
MANTAP: Artikel yang sangat inspiratif,,, 👍👍👍