Festival 5000 Karya Tulis Santri

Saya masih tak percaya, tapi ternyata itu fakta. Hari ini, Selasa 26 Mei 2026, situs web www.duniasantri.co sudah 5000 kali merilis karya tulis santri. Dalam berbagai genre.

Lima puisi di bawah judul “Merpati dan Hujan” karya Imana Tahira merupakan rilisan yang ke-5000. Tata, panggilan akrab cucu KH Ilyas Ruhiat, putri sastrawan Acep Zamzam Noor, ini, baru kali pertama mengirimkan karyanya untuk dimuat di duniasantri.co.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tujuh tahun lalu, ketika portal duniasantri.co mulai diluncurkan pada 17 Agustus 2019, kami tak berani membayangkan akan sampai pada titik ini. Sebab, saat itu, betapa sulit “membujuk” dan “merayu” para santri untuk menulis. Kami, jejaring duniasantri, akhirnya menggulirkan Gerakan Santri Menulis. Kami keliling ke berbagai daerah, keluar masuk pesantren, untuk mengadakan workshop-workshop penulisan.

Akhirnya, semakin ke sini, gairah menulis di kalangan santri kian menggebu, yang membuat saya sering terharu. Sampai tulisan ini disiapkan, jumlah naskah yang disubmit sudah bergerak mendekat ke angka 10.000. Persisnya 9.530 naskah! Dari jumlah itu, setelah melalui proses kurasi, per hari ini yang layak dirilis mencapai 5000 tulisan– lebih jika rilisan puisi dihitung per judul. Sebab, untuk puisi, tiap kali rilis minimal terdiri dari tiga judul puisi.

Jika dihitung rata-rata tiap perilisan puisi terdari dari tiga judul, maka dalam 5000 perilisan tersebut terdapat sedikitnya 2.076 judul puisi dari 692 perilisan.

Keragaman Genre 

Tingginya gairah penulisan di kalangan santri juga terlihat dari genre-genre yang mereka jelajahi. Portal duniasantri.co memang menyediakan rubrik yang cukup banyak. Setidaknya ada 12 rubrik, mulai dari teras (berita), opini, cerpen, puisi, sosok (profil tokoh), pondok (profil pesantren), pustaka (resensi buku/kitab), humor, santri way, bintang (profil santri berprestasi), ekspresi, dan English Section.

Tak ada rubrik yang kosong. Semua terisi, meskipun yang paling banyak tentu saja tulisan dalam bentuk artikel (opini) sebanyak 2.035 naskah, disusul teras atau berita (763 naskah), puisi (692 rilisan), dan cerpen (469 naskah).

Data tersebut menunjukkan minat dan kemampuan santri dalam genre penulisan yang sangat beragam.

Keragaman Generasi

Mungkin bukan lagi satu-satunya, tapi duniasantri-lah yang mempelopori sistem pembukaan akun di web bagi penulisnya. Tiap santri yang hendak mengirimkan tulisan harus membuat akun, mengisi data diri lengkap, barulah bisa submit tulisan. Mereka kemudian menjadi “warga duniasantri”.

Per hari ini, jumlah “warga duniasantri” telah mencapai 3.736. Artinya, jumlah akun penulis/kontributor sudah sebanyak itu. Memang tidak seluruhnya santri. Tapi, mayoritas, di atas 90 persen, adalah santri atau alumni pesantren. Sisanya mereka yang berasal dari lembaga-lembaga pendidikan Islam dan umum.

Yang menarik bukan hanya soal jumlahnya, tapi juga keragaman profilnya. Sebagai contoh, tak sedikit pemilik akun yang usianya masih di bawah 17 tahun, masih pelajar setingkat SMP dan SMA (tsnawiyah dan aliyah). Tapi banyak juga yang usianya di atas 40 tahun dan menekuni berbagai profesi. Artinya, penulis duniasantri itu lintas generasi dan profesi. Mulai dari yang masih pelajar setingkat SMP dan SMA, mahasiswa, guru, peneliti, sampai dosen dan bahkan wakil rektor. Dan tentu saja sejumlah profesi lain.

Pernah suatu hari, ada pemilik akun submit satu tulisan. Kami kemudian melakukan pengecekan dan konfirmasi melalui nomor handphone yang dipakai registrasi, ternyata yang merespons adalah ibunya.

“Iya, anak saya senang menulis. Karena masih di pondok, handphonenya saya yang pegang. Kalau lagi pulang saja dia bisa pegang handphone,” ujar ibunya, yang mengaku bangga putrinya sudah berani submit tulisan di media. Putrinya sedang belajar di Madrasah Tsanawiyah di sebuah pesantren.

Jika melihat perkembangannya, akhirnya duniasantri.co telah menjadi “rumah penulisan” bagi santri lintas generasi. Juga lintas profesi.

Seminar

Bagi kami, tentu, 5000 bukan sekadar angka. Itu adalah pencapaian. Lalu, bagaimana merayakan pencapaian tersebut?

Kami sedang merencanakan untuk menggelar seminar yang secara khusus membahas perilisan 5000 karya tulis santri tersebut. Seminar ini rencananya akan digelar akhir Juni atau awal Juli, sebagai bagian dari rangkaian Festival Dunia Santri 2026.

Seminar ini dimaksudkan untuk menyelami, kemudian memetakan, alam pikiran santri yang terbaca dari perilisan 5000 karya tulis tersebut. Sekaligus, untuk membaca arah masa depan pesantren di tengah disrupsi teknologi digital yang kian tak tepermanai.

Sambil menunggu seminar itu digelar, kami juga mencoba melakukan analisis mendalam terhadap 5000 karya tulis santri tersebut dengan bantuan perangkat yang disediakan Artificial Intellegence (AI). Hasilnya akan segera dirilis sebagai kelanjutan dari tulisan ini.

2 Replies to “Festival 5000 Karya Tulis Santri”

Tinggalkan Balasan