Ah.. Ada apa dengan hari ini, bangun tidur, lanjut salat Dzuhur, mata saya terhenti pada sebuah fakta yang membuat dada berdebar. Alih-alih mengecek tulisan kemarin diterbitkan oleh website duniasantri.co atau tidak, saya malah menemukan sebuah tulisan Mas Mukhlisin yang menjelaskan bahwa website ini baru saja merilis karya tulis santri yang ke-5000 (baca di sini).
Seketika, ingatan saya melayang pada pusaran waktu beberapa tahun lalu, saat rutinitas berselancar di Instagram kerap menyisakan sesak di dada. Kala itu, ruang publik digital acap kali bising oleh narasi yang kaku, polarisasi, dan konten nirfaedah. Lebih menohok lagi, tak sedikit komentar miring yang mempertanyakan kontribusi nyata kaum sarungan di tengah masyarakat modern.

Di tengah segala hening yang berbalut reflektif masa-masa itu, saya pernah tertegun membaca untaian doa seorang netizen:
“Andai saja para santri di pondok mencatat keterangan dari gurunya kemudian ditambahkan dengan ilmu yang mereka punya untuk selanjutnya disebarluaskan di media sosial, niscaya ilmu pesantren akan dirasakan banyak orang luar.”
