Yang satu menulis Max Havelaar dari dalam tubuh kolonialisme itu sendiri. Yang lain menulis kitab-kitab keislaman dari Makkah, jauh dari pusat kekuasaan Hindia Belanda. Namun keduanya sama-sama gelisah melihat ketidakadilan. Keduanya sama-sama menolak penindasan. Hanya saja mereka memilih jalan dan bahasa yang berbeda.
Multatuli menggunakan sastra sebagai gugatan moral terhadap kolonialisme. Melalui tokoh-tokoh dan cerita, ia memperlihatkan luka yang ditimbulkan oleh kekuasaan. Sementara engkau, Syekh, membangun perlawanan melalui ilmu pengetahuan, tafsir, dan pendidikan. Jika Multatuli menggugat dari dalam sistem, engkau meneguhkan kesadaran dari luar pagar kekuasaan.

Dr. Eva menyebut cara pandang ini sebagai pembacaan sejarah yang stereoskopik: melihat masa lalu dengan dua mata sekaligus, bukan hanya satu. Sebab sejarah yang hanya dibaca dari satu arah sering kali melahirkan kesimpulan yang timpang.
Dengan mempertemukan Multatuli dan dirimu dalam satu bingkai, kami diajak memahami bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak lahir dari satu jalan saja. Ada yang bergerak melalui sastra, ada yang menempuh jalan ilmu pengetahuan; ada yang bersuara lantang dari pusat kekuasaan, ada pula yang bekerja dalam kesunyian ruang-ruang pengajian.
Mungkin karena itulah sejarah menjadi lebih utuh. Ia tidak hanya mendengar suara yang datang dari kantor-kantor kolonial atau parlemen Eropa, tetapi juga suara yang tumbuh dari pesantren, dari kitab-kitab kuning, dan dari seorang ulama di Tanah Suci yang diam-diam sedang menanam benih kesadaran bagi bangsanya.
Yang lebih mengagumkan lagi, Syekh, adalah padangan baik dari Dr. Eva maupun dari Jamal D. Rahman, dalam buku terbarunya, menyebutkan, bagaimana engkau merawat identitas yang bertingkat tanpa menjadikannya saling bertabrakan. Dalam berbagai karya dan nisbah yang engkau gunakan, tersimpan tiga lingkar kesadaran yang saling menguatkan: Al-Tanari, Al-Bantani, dan Al-Jawi.
Al-Tanari adalah kenangan tentang kampung halaman, tentang tanah tempat engkau dilahirkan dan pertama kali mengenal dunia. Al-Bantani adalah kesadaran yang lebih luas, sebuah ikatan dengan Banten yang pada zamannya menjadi medan pergulatan melawan kolonialisme. Sedangkan, Al-Jawi adalah cakrawala yang melampaui batas-batas kedaerahan, sebuah kesadaran kolektif tentang Nusantara yang menyatukan beragam suku, bahasa, dan tradisi dalam satu ikatan peradaban.
Ketiga identitas itu tidak saling meniadakan. Engkau tidak meninggalkan Tanara ketika menyebut diri sebagai Al-Bantani. Engkau juga tidak kehilangan Banten ketika memperkenalkan diri sebagai Al-Jawi. Semuanya hadir secara bersamaan, seperti lingkaran-lingkaran yang bertemu pada satu pusat yang sama: kecintaan kepada tanah asal dan tanggung jawab terhadap masyarakat yang lebih luas.
Barangkali di situlah letak kebesaran pandanganmu, Syekh. Jauh sebelum istilah nasionalisme menjadi perdebatan para intelektual modern, engkau telah menunjukkan bahwa seseorang dapat mencintai kampung halamannya tanpa terjebak pada kesempitan kedaerahan. Bahwa seseorang dapat menjadi bagian dari dunia yang luas tanpa tercerabut dari akar tempat ia berasal.
Saya membayangkan ketika engkau menuliskan nisbah itu dalam karya-karyamu, mungkin engkau sedang mengajarkan sesuatu yang jauh melampaui zamannya: bahwa manusia dapat mencintai kampung halamannya tanpa membenci yang lain. Bahwa seseorang dapat menjadi warga dunia tanpa kehilangan akar.
Pandangan itu semakin menemukan bentuknya dalam pemaparan Dr. Mohamad Shofin Sugito. Melalui gagasan Terre-Patrie atau Tanah Air Dunia, ia mengajak kami membaca kembali jejak pemikiran Syekh dari cakrawala yang lebih luas. Bahwa kecintaan kepada tanah kelahiran tidak semestinya berhenti pada batas-batas geografis, suku, atau teritorial semata. Cinta kepada tanah air justru menemukan maknanya yang paling dalam ketika tumbuh menjadi kepedulian terhadap sesama manusia dan tanggung jawab terhadap kehidupan yang lebih luas.
Mendengar penjelasan itu, saya seperti melihat kembali perjalanan hidupmu, Syekh. Meski menetap puluhan tahun di Makkah, engkau tidak pernah tercerabut dari Tanara. Meski namamu harum di dunia Islam, engkau tidak pernah kehilangan ingatan terhadap Banten. Namun pada saat yang sama, kecintaanmu kepada tanah kelahiran tidak berubah menjadi fanatisme yang sempit. Ia menjelma menjadi pandangan hidup yang merangkul siapa saja, melampaui batas bangsa, ras, dan geografi.
Dalam perspektif itu, engkau tidak lagi hanya tampil sebagai ulama Banten atau ulama Nusantara. Engkau hadir sebagai seorang ulama dunia yang berakar kuat pada tanah kelahirannya, tetapi cabang-cabang pemikirannya menjangkau seluruh kemanusiaan. Dari Tanara engkau berbicara kepada Nusantara. Dari Nusantara engkau berbicara kepada dunia.
Barangkali karena itulah hingga hari ini namamu tetap relevan. Sebab yang engkau wariskan bukan sekadar kumpulan kitab, melainkan cara memandang kehidupan: bahwa mencintai kampung halaman tidak berarti menutup diri dari dunia, dan menjadi warga dunia tidak berarti melupakan tanah tempat kita berasal.
Dari Banten engkau menyalakan cahaya untuk dunia. Dari Tanara engkau mengajarkan arti kemanusiaan. Dari sebuah pesantren sederhana, engkau menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat melintasi batas-batas geografis dan menjadi bahasa universal bagi peradaban.
***
Syekh Nawawi yang saya hormati,
Saya hampir lupa tujuan awal surat ini. Terlalu banyak cerita yang ingin saya bagikan kepada Syekh setelah perjalanan ke tanah kelahiran Syekh. Dari satu percakapan ke percakapan lain, dari satu kenangan ke kenangan berikutnya, saya seperti terus diajak menyusuri jejak-jejak yang Syekh tinggalkan.
Padahal yang sebenarnya ingin saya ceritakan adalah peristiwa tiga hari setelah kami pulang dari Banten, tepat pada 7 Juni 2026.
Hari itu saya bersama Jamal D. Rahman, Halim Pohan, Mukhlisin, dan Beni Satria bersilaturahmi ke kediaman KH Said Aqil Siradj di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan. Di sana, sebagaimana lazimnya sebuah pesantren, percakapan mengalir dari satu persoalan ke persoalan lain. Tentang ilmu, tentang tradisi keilmuan Islam, tentang masa depan pesantren, dan tentu saja tentang para santri.
Di sela perbincangan itu, beliau mengingatkan pentingnya memperdalam Ushuluddin, Ushul Fikih, dan Mushthalahul Hadits di lingkungan pesantren. Menurut beliau, pesantren memiliki kekhasan intelektual yang tidak boleh hilang ditelan zaman. Sebab pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan yang mengajarkan pengetahuan agama, melainkan rumah besar tempat tradisi berpikir diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika kami menyampaikan rencana Seminar 5.000 Tulisan Santri yang—apabilla tidak ada perubahan akan kami gelar pada tanggal 27 Juni di Jakarta—sebagai bagian dari Festival Dunia Santri 2026, beliau menyambutnya dengan penuh antusias. Bahkan beliau berpesan agar sebanyak mungkin agenda festival dilaksanakan di lingkungan pesantren.
