Saya menangkap satu keyakinan yang kuat dari pesan itu: bahwa pesantren harus tetap menjadi pusat pertemuan gagasan, tempat lahirnya pemikiran, dan ruang bertumbuhnya kesadaran kebangsaan.
Entah mengapa, Syekh, nasihat itu mengingatkan saya pada perjalanan kami ke tanah kelahiran Syekh beberapa hari sebelumnya. Seolah-olah ada benang yang menghubungkan semua percakapan yang kami dengar selama perjalanan itu. Benang yang sama-sama berujung pada satu kesimpulan: pesantren bukan hanya tempat belajar agama.

Pesantren adalah tempat merawat ingatan bangsa. Ya, di pesantrenlah kisah-kisah perjuangan diwariskan. Di pesantren pulalah api pengetahuan dijaga agar tidak padam. Di sanalah lahir manusia-manusia yang belajar mencintai Tuhannya tanpa kehilangan cintanya kepada tanah air, dan mencintai tanah air tanpa kehilangan kepeduliannya kepada kemanusiaan.
Mungkin karena itulah, Syekh, pelajaran terbesar yang kami bawa pulang dari tanah kelahiranmu bukanlah sekadar pengetahuan tentang sejarah atau tokoh-tokoh besar. Yang kami bawa pulang adalah kesadaran bahwa bangsa ini sesungguhnya dibangun oleh banyak tangan yang bekerja dalam diam.
Bukan hanya oleh mereka yang berdiri di podium-podium kekuasaan atau tercatat dalam buku-buku sejarah resmi, melainkan juga oleh para guru yang mengajar dengan sabar di ruang-ruang sederhana, oleh para ulama yang menulis kitab di tengah keterbatasan, oleh para santri yang memanggul ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan oleh orang-orang yang memilih menanam pohon meskipun tahu mereka mungkin tidak akan pernah menikmati buahnya.
Dan saya kira, Syekh, engkau adalah salah satu penanam pohon itu.
Barangkali engkau sendiri tidak pernah membayangkan seberapa rindang pohon yang kau tanam akan tumbuh. Sebab ketika menulis kitab-kitabmu, mengajar para santri di Makkah, dan menyalakan api ilmu di tengah umat, engkau tidak sedang mengejar kemasyhuran. Engkau hanya menjalankan kewajiban seorang guru: menyampaikan ilmu, merawat akhlak, dan menanam harapan bagi masa depan.
Namun dari tangan seorang guru yang bekerja dalam kesunyian itulah lahir begitu banyak cabang kehidupan. Ada yang tumbuh menjadi ulama, menjadi pejuang, menjadi pendidik, menjadi pendiri organisasi, dan menjadi penjaga negeri. Mereka menyebar ke berbagai penjuru Nusantara, membawa benih yang sama yang pernah engkau tanam.
Karena itu, hingga hari ini namamu tetap hidup, Syekh.
Bukan karena monumen yang menjulang tinggi. Bukan karena gelar-gelar kehormatan yang disematkan manusia. Melainkan, karena ilmu yang terus berjalan, mengalir tanpa henti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari hati ke hati. Dari kitab ke kitab. Dari guru ke murid. Dari santri ke santri. Dari zaman ke zaman.
Syekh Nawawi yang saya takzimi,
Sebelum surat ini benar-benar saya tutup, izinkan saya menceritakan satu hal yang hampir luput saya tuliskan.
Di balik perjalanan kami ke tanah kelahiran Syekh, di balik suksesnya Studium Generale dan Diskusi Buku Islam, Sastra, Pengetahuan, di balik pertemuan-pertemuan yang memperkaya batin dan pengetahuan kami, ada seorang lelaki yang bekerja nyaris tanpa suara. Ia tidak berdiri paling depan. Ia tidak banyak berbicara tentang dirinya. Tetapi justru dari tangannya banyak pintu terbuka, banyak jalan dipertemukan, dan banyak percakapan penting akhirnya dapat berlangsung.
Melalui dirinya, kami dipertemukan dengan para ulama, para akademisi, para budayawan, para peneliti, bahkan para sastrawan yang selama ini turut merawat ingatan tentang para tokoh besar bangsa. Melalui dirinya pula, percakapan tentangmu menemukan ruang yang lebih luas untuk didengar dan dipahami.
Kami sungguh tidak pernah membayangkan bahwa rangkaian Festival Dunia Santri 2026, khususnya agenda Studium Generale dan Diskusi Buku Islam, Sastra, Pengetahuan, di Serang Banten, dapat berjalan sedemikian hangat, hidup, dan bermakna tanpa kehadiran sosok yang sederhana dan bersahaja ini.
Tokoh yang saya maksud itu, Syekh, adalah Dr. H. Endang Saeful Anwar, Lc., M.A.
Wakil Dekan III FUDA UIN Banten ini bukan hanya mempersiapkan sebuah acara. Ia sedang membangun jembatan. Jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan jejak para ulama terdahulu. Jembatan yang mempertemukan para santri dengan sejarahnya sendiri. Jembatan yang memungkinkan kami menelusuri kembali jejak pemikiranmu yang selama ini tersebar dalam kitab, ingatan, dan tradisi keilmuan pesantren.
Mungkin banyak orang hanya melihat sebuah acara yang sukses. Tetapi kami melihat kerja sunyi yang berlangsung jauh sebelum acara dimulai. Kerja yang tidak selalu tampak di atas panggung, tetapi menentukan berdiri atau tidaknya panggung itu sendiri.
Karena itu, melalui surat ini, izinkan kami, keluarga besar jejaring duniasantri, menyampaikan terima kasih dan penghormatan yang tulus kepada Dr. H. Endang Saeful Anwar, Lc., M.A., beserta seluruh tim Fakultas Ushuluddin dan Adab Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang telah menerima kami dengan tangan terbuka, dengan persahabatan yang hangat, dan dengan semangat keilmuan yang begitu mengesankan. Secara khusus, rasa terima kasih juga kami sampaikan kepada Rektor dan Wakil Rektor II, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, MA dan Dr. Ali Muhtarom, S.Pd.I., M.S.I, serta Dekan FUDA, Dr. Masykur, S.Ag., M.Hum, yang telah membuka pintu bagi kami.
Barangkali beginilah cara ilmu pengetahuan terus hidup dari zaman ke zaman: bukan hanya melalui para pemikir besar yang menulis kitab-kitab agung, tetapi juga melalui orang-orang yang dengan rendah hati membangun pertemuan, merawat silaturahmi, dan memastikan cahaya pengetahuan terus menemukan jalannya kepada generasi berikutnya.
Salam takzim.
Jakarta, 10 Juni 2026.
