Festival Dunia Santri 2026 (4): Tiga Hari Sepulang dari Tanah Kelahiran Syekh Nawawi

Yang Mulia Syekh Nawawi,

Tiga hari setelah kami meninggalkan tanah kelahiranmu, Syekh, kami masih merasa belum benar-benar pulang. Ada bagian dari diri kami yang seolah tertinggal di Banten; tinggal bersama angin yang berembus dari pesisir Tanara, menetap di lorong-lorong pesantren yang masih menyebut namamu dengan penuh takzim, atau mungkin masih duduk diam di antara halaman-halaman kitab yang selama ini hanya kami baca tanpa sungguh-sungguh memahami jalan pikiranmu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perjalanan kami ke tanah kelahiranmu, yang dipertemukan dengan Studium Generale dan Diskusi Buku Islam, Sastra, Pengetahuan karya Jamal D. Rahman di Fakultas Ushuluddin dan Adab Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Serang, Banten—salah satu mata acara Festival Dunia Santri 2026—telah berakhir pada 4 Juni 2026. Tetapi saya merasa, Syekh, yang selesai hanyalah perjalanannya. Percakapan tentang diri Syekh justru mulai tumbuh dan menemukan jalannya setelah kami pulang.

Ya, Syekh, selama ini kami mengenalmu terutama sebagai ulama besar dalam bidang akidah, akhlak, dan tasawuf. Nama dan kitab-kitabmu hadir dalam pengajian-pengajian, disebut dengan hormat oleh para kiai, dan diajarkan dari generasi ke generasi santri. Namun terus terang saja, banyak di antara kami yang hanya mendengar suara Syekh dari kejauhan. Kami mengenal kemuliaan ilmu Syekh, tetapi belum sepenuhnya memahami keluasan pandangan Syekh.

Baru setelah menjejak tanah kelahiran Syekh, mendengar cerita demi cerita dari para peneliti, sejarawan, ulama, dan para pencinta ilmu, kami seperti diajak membuka lembar lain yang selama ini jarang dibicarakan. Seolah ada halaman sejarah yang sengaja terlipat, bahkan mungkin dibiarkan terlupakan.

Padahal engkau, Syekh, bukan hanya seorang ulama yang mengajarkan bagaimana manusia mengenal Tuhannya, memperbaiki akhlaknya, dan membersihkan jiwanya. Engkau juga seorang guru yang menanamkan kecintaan kepada tanah air, menumbuhkan keberanian melawan kezaliman, serta merawat kesadaran kebangsaan jauh sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah negara.

Mungkin karena itulah jejak Syekh tidak hanya ditemukan di dalam kitab-kitab, tetapi juga pada sejarah panjang perjuangan bangsa ini.

Prof. Mufti Ali, misalnya, tidak hanya membicarakan isi buku tersebut. Ia menunjukkan bagaimana sejarah dapat ditulis dengan cara yang lebih manusiawi. Menurutnya, Jamal berhasil menghidupkan kembali teks-teks sejarah yang selama ini terasa kering. Pembaca tidak hanya mengetahui fakta-fakta masa lalu, tetapi juga diajak berjalan menyusuri lorong-lorong waktu, melihat suasana Makkah tempat engkau mengajar, menyaksikan bagaimana gagasan-gagasan kebangsaan tumbuh dalam majelis ilmu yang sederhana.

Dari penjelasan itu kami memahami bahwa Syekh bukan sekadar seorang pengarang kitab. Syekh adalah penanam benih. Benih yang kemudian tumbuh menjadi pohon-pohon besar dalam sejarah Indonesia.

Prof. Mufti Ali juga bercerita tentang salah seorang muridmu yang namanya mungkin tidak setenar para pendiri organisasi besar, tetapi jejak perjuangannya masih terasa hingga hari ini: Kiai Tubagus Muhammad Asnawi.

Ulama karismatik yang lahir di Caringin, Banten, pada tahun 1850 itu pernah duduk di majelis ilmumu di Makkah. Dari tanganmu ia belajar ilmu agama, tetapi barangkali ia juga belajar sesuatu yang lebih besar: bagaimana ilmu harus berpihak kepada kemanusiaan dan bagaimana keimanan tidak boleh tunduk kepada kezaliman.

Sekembalinya ke tanah air, Kiai Asnawi tidak memilih jalan yang sunyi. Ia berdiri di tengah masyarakatnya, mengorganisasi para santri dan jawara, membangkitkan keberanian mereka untuk menentang penjajahan Belanda. Baginya, agama bukan sekadar urusan mihrab dan mimbar. Agama adalah keberpihakan kepada mereka yang tertindas.

Perlawanan itu tentu membuat penguasa kolonial gelisah. Kiai Asnawi dan para pengikutnya kemudian ditangkap dan dipenjarakan karena dianggap mengancam kekuasaan Belanda. Namun yang paling menarik, sekaligus terasa nyaris mustahil dipercaya oleh akal modern kita hari ini, adalah salah satu barang bukti yang dicatat aparat kolonial saat penangkapannya.

Di sela-sela kopiah Kiai Asnawi ditemukan secarik kertas berisi Salawat Nariyah. Betapa aneh kedengarannya, Syekh. Sebuah doa. Hanya selembar kertas kecil berisi pujian kepada Nabi. Namun di mata kolonialisme, kertas itu dianggap cukup berbahaya untuk dicatat sebagai bagian dari ancaman terhadap kekuasaan mereka.

Barangkali karena Belanda memahami sesuatu yang sering kali dilupakan banyak orang hari ini: bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak selalu lahir dari senjata. Kadang ia tumbuh dari keyakinan. Dari doa-doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh. Dari majelis ilmu yang melahirkan keberanian. Dari santri-santri yang percaya bahwa melawan kezaliman adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan.

Maka secarik kertas di dalam kopiah itu bukan lagi sekadar kertas. Ia menjelma menjadi simbol. Simbol tentang bagaimana ilmu, iman, dan cinta tanah air bertemu dalam diri seorang muridmu.

Betapa menarik, Syekh. Bagi kolonialisme, bahkan doa bisa dianggap ancaman. Ya, kertas kecil yang terselip di dalam kopiah Kiai Asnawi itu menjadi bukti bahwa perlawanan tidak selalu lahir dari senjata. Kadang-kadang ia lahir dari keyakinan. Dari zikir. Dari pengajian. Dari kesadaran bahwa manusia tidak boleh tunduk kepada kezaliman.

Tentangmu, Syekh, selain dari Prof Mufti, kami juga menyimak apa yang dipaparkan Dr. Ngatawi Al-Zastrouw. Darinya kami menemukan sudut pandang lain yang sangat penting. Selama ini sejarah nasionalisme Indonesia sering ditulis dari perspektif kaum terpelajar Barat atau kaum priyayi yang memperoleh pendidikan kolonial. Nama-nama ulama, kiai, dan santri sering muncul hanya sebagai catatan kaki. Padahal menurutnya, nasionalisme Indonesia tidak lahir di ruang-ruang administrasi kolonial semata. Nasionalisme juga lahir di surau, pesantren, dan majelis-majelis pengajian.

“Engkau, Syekh, menjadi salah satu mata air penting dari kesadaran itu.” Ungkap budayawan yang juga mantan ketua Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi NU) itu, Syekh.

Melalui teologi Asy’ariyah yang moderat, uajarnya, melalui gagasan kesalehan sosial, dan melalui kemampuan membaca zaman secara kontekstual, engkau meletakkan fondasi bagi sebuah nasionalisme yang tidak bertentangan dengan agama. Bahkan lebih jauh dari itu. Nasionalisme menjadi bagian dari ekspresi keagamaan itu sendiri.

Apa yang kemudian dilakukan Ki Wasyid dalam Perlawanan Cilegon 1888, apa yang diwariskan kepada KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, hingga lahirnya Resolusi Jihad pada 10 November 1945, semuanya seperti menunjukkan bahwa gagasan-gagasan yang tumbuh di Makkah ternyata mampu menggerakkan sejarah di Nusantara.

Sementara itu, sejarawan sekaligus intelektual perempuan, Dr. Eva Syarifah Wardah, mengajak kami melihat diri Syekh dari sudut yang tak biasa. Dalam pemaparannya, ia mempertemukan dua tokoh yang selama ini seolah berdiri di dua dunia yang berbeda: Multatuli dan engkau, Syekh.

Yang satu menulis Max Havelaar dari dalam tubuh kolonialisme itu sendiri. Yang lain menulis kitab-kitab keislaman dari Makkah, jauh dari pusat kekuasaan Hindia Belanda. Namun keduanya sama-sama gelisah melihat ketidakadilan. Keduanya sama-sama menolak penindasan. Hanya saja mereka memilih jalan dan bahasa yang berbeda.

Multatuli menggunakan sastra sebagai gugatan moral terhadap kolonialisme. Melalui tokoh-tokoh dan cerita, ia memperlihatkan luka yang ditimbulkan oleh kekuasaan. Sementara engkau, Syekh, membangun perlawanan melalui ilmu pengetahuan, tafsir, dan pendidikan. Jika Multatuli menggugat dari dalam sistem, engkau meneguhkan kesadaran dari luar pagar kekuasaan.

Dr. Eva menyebut cara pandang ini sebagai pembacaan sejarah yang stereoskopik: melihat masa lalu dengan dua mata sekaligus, bukan hanya satu. Sebab sejarah yang hanya dibaca dari satu arah sering kali melahirkan kesimpulan yang timpang.

Dengan mempertemukan Multatuli dan dirimu dalam satu bingkai, kami diajak memahami bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak lahir dari satu jalan saja. Ada yang bergerak melalui sastra, ada yang menempuh jalan ilmu pengetahuan; ada yang bersuara lantang dari pusat kekuasaan, ada pula yang bekerja dalam kesunyian ruang-ruang pengajian.

Mungkin karena itulah sejarah menjadi lebih utuh. Ia tidak hanya mendengar suara yang datang dari kantor-kantor kolonial atau parlemen Eropa, tetapi juga suara yang tumbuh dari pesantren, dari kitab-kitab kuning, dan dari seorang ulama di Tanah Suci yang diam-diam sedang menanam benih kesadaran bagi bangsanya.

Yang lebih mengagumkan lagi, Syekh, adalah padangan baik dari Dr. Eva maupun dari Jamal D. Rahman, dalam buku terbarunya, menyebutkan, bagaimana engkau merawat identitas yang bertingkat tanpa menjadikannya saling bertabrakan. Dalam berbagai karya dan nisbah yang engkau gunakan, tersimpan tiga lingkar kesadaran yang saling menguatkan: Al-Tanari, Al-Bantani, dan Al-Jawi.

Al-Tanari adalah kenangan tentang kampung halaman, tentang tanah tempat engkau dilahirkan dan pertama kali mengenal dunia. Al-Bantani adalah kesadaran yang lebih luas, sebuah ikatan dengan Banten yang pada zamannya menjadi medan pergulatan melawan kolonialisme. Sedangkan, Al-Jawi adalah cakrawala yang melampaui batas-batas kedaerahan, sebuah kesadaran kolektif tentang Nusantara yang menyatukan beragam suku, bahasa, dan tradisi dalam satu ikatan peradaban.

Ketiga identitas itu tidak saling meniadakan. Engkau tidak meninggalkan Tanara ketika menyebut diri sebagai Al-Bantani. Engkau juga tidak kehilangan Banten ketika memperkenalkan diri sebagai Al-Jawi. Semuanya hadir secara bersamaan, seperti lingkaran-lingkaran yang bertemu pada satu pusat yang sama: kecintaan kepada tanah asal dan tanggung jawab terhadap masyarakat yang lebih luas.

Barangkali di situlah letak kebesaran pandanganmu, Syekh. Jauh sebelum istilah nasionalisme menjadi perdebatan para intelektual modern, engkau telah menunjukkan bahwa seseorang dapat mencintai kampung halamannya tanpa terjebak pada kesempitan kedaerahan. Bahwa seseorang dapat menjadi bagian dari dunia yang luas tanpa tercerabut dari akar tempat ia berasal.

Saya membayangkan ketika engkau menuliskan nisbah itu dalam karya-karyamu, mungkin engkau sedang mengajarkan sesuatu yang jauh melampaui zamannya: bahwa manusia dapat mencintai kampung halamannya tanpa membenci yang lain. Bahwa seseorang dapat menjadi warga dunia tanpa kehilangan akar.

Pandangan itu semakin menemukan bentuknya dalam pemaparan Dr. Mohamad Shofin Sugito. Melalui gagasan Terre-Patrie atau Tanah Air Dunia, ia mengajak kami membaca kembali jejak pemikiran Syekh dari cakrawala yang lebih luas. Bahwa kecintaan kepada tanah kelahiran tidak semestinya berhenti pada batas-batas geografis, suku, atau teritorial semata. Cinta kepada tanah air justru menemukan maknanya yang paling dalam ketika tumbuh menjadi kepedulian terhadap sesama manusia dan tanggung jawab terhadap kehidupan yang lebih luas.

Mendengar penjelasan itu, saya seperti melihat kembali perjalanan hidupmu, Syekh. Meski menetap puluhan tahun di Makkah, engkau tidak pernah tercerabut dari Tanara. Meski namamu harum di dunia Islam, engkau tidak pernah kehilangan ingatan terhadap Banten. Namun pada saat yang sama, kecintaanmu kepada tanah kelahiran tidak berubah menjadi fanatisme yang sempit. Ia menjelma menjadi pandangan hidup yang merangkul siapa saja, melampaui batas bangsa, ras, dan geografi.

Dalam perspektif itu, engkau tidak lagi hanya tampil sebagai ulama Banten atau ulama Nusantara. Engkau hadir sebagai seorang ulama dunia yang berakar kuat pada tanah kelahirannya, tetapi cabang-cabang pemikirannya menjangkau seluruh kemanusiaan. Dari Tanara engkau berbicara kepada Nusantara. Dari Nusantara engkau berbicara kepada dunia.

Barangkali karena itulah hingga hari ini namamu tetap relevan. Sebab yang engkau wariskan bukan sekadar kumpulan kitab, melainkan cara memandang kehidupan: bahwa mencintai kampung halaman tidak berarti menutup diri dari dunia, dan menjadi warga dunia tidak berarti melupakan tanah tempat kita berasal.

Dari Banten engkau menyalakan cahaya untuk dunia. Dari Tanara engkau mengajarkan arti kemanusiaan. Dari sebuah pesantren sederhana, engkau menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat melintasi batas-batas geografis dan menjadi bahasa universal bagi peradaban.

***

Syekh Nawawi yang saya hormati,

Saya hampir lupa tujuan awal surat ini. Terlalu banyak cerita yang ingin saya bagikan kepada Syekh setelah perjalanan ke tanah kelahiran Syekh. Dari satu percakapan ke percakapan lain, dari satu kenangan ke kenangan berikutnya, saya seperti terus diajak menyusuri jejak-jejak yang Syekh tinggalkan.

Padahal yang sebenarnya ingin saya ceritakan adalah peristiwa tiga hari setelah kami pulang dari Banten, tepat pada 7 Juni 2026.

Hari itu saya bersama Jamal D. Rahman, Halim Pohan, Mukhlisin, dan Beni Satria bersilaturahmi ke kediaman KH Said Aqil Siradj di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan. Di sana, sebagaimana lazimnya sebuah pesantren, percakapan mengalir dari satu persoalan ke persoalan lain. Tentang ilmu, tentang tradisi keilmuan Islam, tentang masa depan pesantren, dan tentu saja tentang para santri.

Di sela perbincangan itu, beliau mengingatkan pentingnya memperdalam Ushuluddin, Ushul Fikih, dan Mushthalahul Hadits di lingkungan pesantren. Menurut beliau, pesantren memiliki kekhasan intelektual yang tidak boleh hilang ditelan zaman. Sebab pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan yang mengajarkan pengetahuan agama, melainkan rumah besar tempat tradisi berpikir diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika kami menyampaikan rencana Seminar 5.000 Tulisan Santri yang—apabilla tidak ada perubahan akan kami gelar pada tanggal 27 Juni di Jakarta—sebagai bagian dari Festival Dunia Santri 2026, beliau menyambutnya dengan penuh antusias. Bahkan beliau berpesan agar sebanyak mungkin agenda festival dilaksanakan di lingkungan pesantren.

Saya menangkap satu keyakinan yang kuat dari pesan itu: bahwa pesantren harus tetap menjadi pusat pertemuan gagasan, tempat lahirnya pemikiran, dan ruang bertumbuhnya kesadaran kebangsaan.

Entah mengapa, Syekh, nasihat itu mengingatkan saya pada perjalanan kami ke tanah kelahiran Syekh beberapa hari sebelumnya. Seolah-olah ada benang yang menghubungkan semua percakapan yang kami dengar selama perjalanan itu. Benang yang sama-sama berujung pada satu kesimpulan: pesantren bukan hanya tempat belajar agama.

Pesantren adalah tempat merawat ingatan bangsa. Ya, di pesantrenlah kisah-kisah perjuangan diwariskan. Di pesantren pulalah api pengetahuan dijaga agar tidak padam. Di sanalah lahir manusia-manusia yang belajar mencintai Tuhannya tanpa kehilangan cintanya kepada tanah air, dan mencintai tanah air tanpa kehilangan kepeduliannya kepada kemanusiaan.

Mungkin karena itulah, Syekh, pelajaran terbesar yang kami bawa pulang dari tanah kelahiranmu bukanlah sekadar pengetahuan tentang sejarah atau tokoh-tokoh besar. Yang kami bawa pulang adalah kesadaran bahwa bangsa ini sesungguhnya dibangun oleh banyak tangan yang bekerja dalam diam.

Bukan hanya oleh mereka yang berdiri di podium-podium kekuasaan atau tercatat dalam buku-buku sejarah resmi, melainkan juga oleh para guru yang mengajar dengan sabar di ruang-ruang sederhana, oleh para ulama yang menulis kitab di tengah keterbatasan, oleh para santri yang memanggul ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan oleh orang-orang yang memilih menanam pohon meskipun tahu mereka mungkin tidak akan pernah menikmati buahnya.

Dan saya kira, Syekh, engkau adalah salah satu penanam pohon itu.

Barangkali engkau sendiri tidak pernah membayangkan seberapa rindang pohon yang kau tanam akan tumbuh. Sebab ketika menulis kitab-kitabmu, mengajar para santri di Makkah, dan menyalakan api ilmu di tengah umat, engkau tidak sedang mengejar kemasyhuran. Engkau hanya menjalankan kewajiban seorang guru: menyampaikan ilmu, merawat akhlak, dan menanam harapan bagi masa depan.

Namun dari tangan seorang guru yang bekerja dalam kesunyian itulah lahir begitu banyak cabang kehidupan. Ada yang tumbuh menjadi ulama, menjadi pejuang, menjadi pendidik, menjadi pendiri organisasi, dan menjadi penjaga negeri. Mereka menyebar ke berbagai penjuru Nusantara, membawa benih yang sama yang pernah engkau tanam.

Karena itu, hingga hari ini namamu tetap hidup, Syekh.

Bukan karena monumen yang menjulang tinggi. Bukan karena gelar-gelar kehormatan yang disematkan manusia. Melainkan, karena ilmu yang terus berjalan, mengalir tanpa henti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari hati ke hati. Dari kitab ke kitab. Dari guru ke murid. Dari santri ke santri. Dari zaman ke zaman.

Syekh Nawawi yang saya takzimi,

Sebelum surat ini benar-benar saya tutup, izinkan saya menceritakan satu hal yang hampir luput saya tuliskan.

Di balik perjalanan kami ke tanah kelahiran Syekh, di balik suksesnya Studium Generale dan Diskusi Buku Islam, Sastra, Pengetahuan, di balik pertemuan-pertemuan yang memperkaya batin dan pengetahuan kami, ada seorang lelaki yang bekerja nyaris tanpa suara. Ia tidak berdiri paling depan. Ia tidak banyak berbicara tentang dirinya. Tetapi justru dari tangannya banyak pintu terbuka, banyak jalan dipertemukan, dan banyak percakapan penting akhirnya dapat berlangsung.

Melalui dirinya, kami dipertemukan dengan para ulama, para akademisi, para budayawan, para peneliti, bahkan para sastrawan yang selama ini turut merawat ingatan tentang para tokoh besar bangsa. Melalui dirinya pula, percakapan tentangmu menemukan ruang yang lebih luas untuk didengar dan dipahami.

Kami sungguh tidak pernah membayangkan bahwa rangkaian Festival Dunia Santri 2026, khususnya agenda Studium Generale dan Diskusi Buku Islam, Sastra, Pengetahuan, di Serang Banten, dapat berjalan sedemikian hangat, hidup, dan bermakna tanpa kehadiran sosok yang sederhana dan bersahaja ini.

Tokoh yang saya maksud itu, Syekh, adalah Dr. H. Endang Saeful Anwar, Lc., M.A.

Wakil Dekan III FUDA UIN Banten ini bukan hanya mempersiapkan sebuah acara. Ia sedang membangun jembatan. Jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan jejak para ulama terdahulu. Jembatan yang mempertemukan para santri dengan sejarahnya sendiri. Jembatan yang memungkinkan kami menelusuri kembali jejak pemikiranmu yang selama ini tersebar dalam kitab, ingatan, dan tradisi keilmuan pesantren.

Mungkin banyak orang hanya melihat sebuah acara yang sukses. Tetapi kami melihat kerja sunyi yang berlangsung jauh sebelum acara dimulai. Kerja yang tidak selalu tampak di atas panggung, tetapi menentukan berdiri atau tidaknya panggung itu sendiri.

Karena itu, melalui surat ini, izinkan kami, keluarga besar jejaring duniasantri, menyampaikan terima kasih dan penghormatan yang tulus kepada Dr. H. Endang Saeful Anwar, Lc., M.A., beserta seluruh tim Fakultas Ushuluddin dan Adab Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang telah menerima kami dengan tangan terbuka, dengan persahabatan yang hangat, dan dengan semangat keilmuan yang begitu mengesankan. Secara khusus, rasa terima kasih juga kami sampaikan kepada Rektor dan Wakil Rektor II, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, MA dan Dr. Ali Muhtarom, S.Pd.I., M.S.I, serta Dekan FUDA, Dr. Masykur, S.Ag., M.Hum, yang telah membuka pintu bagi kami.

Barangkali beginilah cara ilmu pengetahuan terus hidup dari zaman ke zaman: bukan hanya melalui para pemikir besar yang menulis kitab-kitab agung, tetapi juga melalui orang-orang yang dengan rendah hati membangun pertemuan, merawat silaturahmi, dan memastikan cahaya pengetahuan terus menemukan jalannya kepada generasi berikutnya.

Salam takzim.

Jakarta, 10 Juni 2026.

Tinggalkan Balasan