Yang Mulia Syekh Nawawi,
Tiga hari setelah kami meninggalkan tanah kelahiranmu, Syekh, kami masih merasa belum benar-benar pulang. Ada bagian dari diri kami yang seolah tertinggal di Banten; tinggal bersama angin yang berembus dari pesisir Tanara, menetap di lorong-lorong pesantren yang masih menyebut namamu dengan penuh takzim, atau mungkin masih duduk diam di antara halaman-halaman kitab yang selama ini hanya kami baca tanpa sungguh-sungguh memahami jalan pikiranmu.

Perjalanan kami ke tanah kelahiranmu, yang dipertemukan dengan Studium Generale dan Diskusi Buku Islam, Sastra, Pengetahuan karya Jamal D. Rahman di Fakultas Ushuluddin dan Adab Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Serang, Banten—salah satu mata acara Festival Dunia Santri 2026—telah berakhir pada 4 Juni 2026. Tetapi saya merasa, Syekh, yang selesai hanyalah perjalanannya. Percakapan tentang diri Syekh justru mulai tumbuh dan menemukan jalannya setelah kami pulang.
Ya, Syekh, selama ini kami mengenalmu terutama sebagai ulama besar dalam bidang akidah, akhlak, dan tasawuf. Nama dan kitab-kitabmu hadir dalam pengajian-pengajian, disebut dengan hormat oleh para kiai, dan diajarkan dari generasi ke generasi santri. Namun terus terang saja, banyak di antara kami yang hanya mendengar suara Syekh dari kejauhan. Kami mengenal kemuliaan ilmu Syekh, tetapi belum sepenuhnya memahami keluasan pandangan Syekh.
Baru setelah menjejak tanah kelahiran Syekh, mendengar cerita demi cerita dari para peneliti, sejarawan, ulama, dan para pencinta ilmu, kami seperti diajak membuka lembar lain yang selama ini jarang dibicarakan. Seolah ada halaman sejarah yang sengaja terlipat, bahkan mungkin dibiarkan terlupakan.
Padahal engkau, Syekh, bukan hanya seorang ulama yang mengajarkan bagaimana manusia mengenal Tuhannya, memperbaiki akhlaknya, dan membersihkan jiwanya. Engkau juga seorang guru yang menanamkan kecintaan kepada tanah air, menumbuhkan keberanian melawan kezaliman, serta merawat kesadaran kebangsaan jauh sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah negara.
Mungkin karena itulah jejak Syekh tidak hanya ditemukan di dalam kitab-kitab, tetapi juga pada sejarah panjang perjuangan bangsa ini.
Prof. Mufti Ali, misalnya, tidak hanya membicarakan isi buku tersebut. Ia menunjukkan bagaimana sejarah dapat ditulis dengan cara yang lebih manusiawi. Menurutnya, Jamal berhasil menghidupkan kembali teks-teks sejarah yang selama ini terasa kering. Pembaca tidak hanya mengetahui fakta-fakta masa lalu, tetapi juga diajak berjalan menyusuri lorong-lorong waktu, melihat suasana Makkah tempat engkau mengajar, menyaksikan bagaimana gagasan-gagasan kebangsaan tumbuh dalam majelis ilmu yang sederhana.
Dari penjelasan itu kami memahami bahwa Syekh bukan sekadar seorang pengarang kitab. Syekh adalah penanam benih. Benih yang kemudian tumbuh menjadi pohon-pohon besar dalam sejarah Indonesia.
Prof. Mufti Ali juga bercerita tentang salah seorang muridmu yang namanya mungkin tidak setenar para pendiri organisasi besar, tetapi jejak perjuangannya masih terasa hingga hari ini: Kiai Tubagus Muhammad Asnawi.
Ulama karismatik yang lahir di Caringin, Banten, pada tahun 1850 itu pernah duduk di majelis ilmumu di Makkah. Dari tanganmu ia belajar ilmu agama, tetapi barangkali ia juga belajar sesuatu yang lebih besar: bagaimana ilmu harus berpihak kepada kemanusiaan dan bagaimana keimanan tidak boleh tunduk kepada kezaliman.
Sekembalinya ke tanah air, Kiai Asnawi tidak memilih jalan yang sunyi. Ia berdiri di tengah masyarakatnya, mengorganisasi para santri dan jawara, membangkitkan keberanian mereka untuk menentang penjajahan Belanda. Baginya, agama bukan sekadar urusan mihrab dan mimbar. Agama adalah keberpihakan kepada mereka yang tertindas.
Perlawanan itu tentu membuat penguasa kolonial gelisah. Kiai Asnawi dan para pengikutnya kemudian ditangkap dan dipenjarakan karena dianggap mengancam kekuasaan Belanda. Namun yang paling menarik, sekaligus terasa nyaris mustahil dipercaya oleh akal modern kita hari ini, adalah salah satu barang bukti yang dicatat aparat kolonial saat penangkapannya.
Di sela-sela kopiah Kiai Asnawi ditemukan secarik kertas berisi Salawat Nariyah. Betapa aneh kedengarannya, Syekh. Sebuah doa. Hanya selembar kertas kecil berisi pujian kepada Nabi. Namun di mata kolonialisme, kertas itu dianggap cukup berbahaya untuk dicatat sebagai bagian dari ancaman terhadap kekuasaan mereka.
Barangkali karena Belanda memahami sesuatu yang sering kali dilupakan banyak orang hari ini: bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak selalu lahir dari senjata. Kadang ia tumbuh dari keyakinan. Dari doa-doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh. Dari majelis ilmu yang melahirkan keberanian. Dari santri-santri yang percaya bahwa melawan kezaliman adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan.
Maka secarik kertas di dalam kopiah itu bukan lagi sekadar kertas. Ia menjelma menjadi simbol. Simbol tentang bagaimana ilmu, iman, dan cinta tanah air bertemu dalam diri seorang muridmu.
Betapa menarik, Syekh. Bagi kolonialisme, bahkan doa bisa dianggap ancaman. Ya, kertas kecil yang terselip di dalam kopiah Kiai Asnawi itu menjadi bukti bahwa perlawanan tidak selalu lahir dari senjata. Kadang-kadang ia lahir dari keyakinan. Dari zikir. Dari pengajian. Dari kesadaran bahwa manusia tidak boleh tunduk kepada kezaliman.
Tentangmu, Syekh, selain dari Prof Mufti, kami juga menyimak apa yang dipaparkan Dr. Ngatawi Al-Zastrouw. Darinya kami menemukan sudut pandang lain yang sangat penting. Selama ini sejarah nasionalisme Indonesia sering ditulis dari perspektif kaum terpelajar Barat atau kaum priyayi yang memperoleh pendidikan kolonial. Nama-nama ulama, kiai, dan santri sering muncul hanya sebagai catatan kaki. Padahal menurutnya, nasionalisme Indonesia tidak lahir di ruang-ruang administrasi kolonial semata. Nasionalisme juga lahir di surau, pesantren, dan majelis-majelis pengajian.
“Engkau, Syekh, menjadi salah satu mata air penting dari kesadaran itu.” Ungkap budayawan yang juga mantan ketua Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi NU) itu, Syekh.
Melalui teologi Asy’ariyah yang moderat, uajarnya, melalui gagasan kesalehan sosial, dan melalui kemampuan membaca zaman secara kontekstual, engkau meletakkan fondasi bagi sebuah nasionalisme yang tidak bertentangan dengan agama. Bahkan lebih jauh dari itu. Nasionalisme menjadi bagian dari ekspresi keagamaan itu sendiri.
Apa yang kemudian dilakukan Ki Wasyid dalam Perlawanan Cilegon 1888, apa yang diwariskan kepada KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, hingga lahirnya Resolusi Jihad pada 10 November 1945, semuanya seperti menunjukkan bahwa gagasan-gagasan yang tumbuh di Makkah ternyata mampu menggerakkan sejarah di Nusantara.
Sementara itu, sejarawan sekaligus intelektual perempuan, Dr. Eva Syarifah Wardah, mengajak kami melihat diri Syekh dari sudut yang tak biasa. Dalam pemaparannya, ia mempertemukan dua tokoh yang selama ini seolah berdiri di dua dunia yang berbeda: Multatuli dan engkau, Syekh.
