Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ketika mendengar kabar tentang kekerasan seksual di pesantren. Kasus di Pati, lalu disusul Pekalongan, dan sejumlah daerah lain, bukan sekadar berita kriminal biasa. Ia seperti palu yang memukul ruang batin para santri, termasuk saya. Pelan, tapi menghantam keras.
Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat orang tua menitipkan harapan. Tempat anak-anak belajar adab sebelum ilmu. Tempat akhlak dibentuk sebelum kepintaran ditonjolkan. Maka ketika yang mencederai justru orang yang mestinya menjaga, luka yang muncul bukan hanya pada korban, tetapi juga pada kepercayaan publik.

Dan seperti kaca benggala, apabila kepercayaan itu sekali retak maka tidak mudah direkatkan kembali.
Retak dari Dalam
Masyarakat mulai bertanya-tanya: “Kalau pesantren saja begini, lalu anak harus belajar akhlak ke mana lagi?”
Pertanyaan itu menyakitkan. Tetapi justru karena menyakitkan, ia tidak boleh dihindari.
Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan marah. Tidak cukup juga hanya dengan defensif dan apologis sambil berkata, “itu cuma oknum.” Sebab publik tidak sedang menghitung jumlah pelaku. Mereka sedang mengukur rasa aman yang didapatkan anaknya ketika di pesantren.
Di titik ini, pesantren sedang diuji. Bukan hanya diuji oleh pelaku kejahatan, tetapi juga diuji oleh cara ia membersihkan dirinya sendiri.
Karena institusi yang besar bukan institusi yang tidak pernah salah. Tetapi institusi yang berani mengakui masalah, memperbaiki diri, dan melindungi yang lemah.
Pesantren tidak boleh berubah menjadi “kerajaan” yang kebal kritik. Sebab ketika kritik dianggap ancaman, biasanya kebusukan mulai dipelihara diam-diam. Dan kalau dibiarkan berkelanjutan maka tinggal tunggu waktu bom nuklir bernama kepercayaan masyarakat itu akan meledak dan menyebarkan radiasi.
Ironisnya, sebagian masyarakat pesantren masih terjebak pada logika: “jangan buka aib pesantren.”
Padahal menutupi kejahatan -iya kejahatan- bukan sekadar aib atau kekurangan, bukan berarti sedang menjaga marwah. Itu justru memperpanjang musibah dan masalah.
