Growth Mindset dan Tradisi Belajar Santri

“Aku memang tidak pandai menghafal.” “Bahasa Arab terlalu sulit.” “Teman-temanku lebih pintar daripada aku.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas dalam pikiran sebagian santri. Ketika menghadapi pelajaran yang sulit, tidak sedikit yang akhirnya menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak berbakat. Akibatnya, semangat belajar menurun bahkan sebelum benar-benar berusaha.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Padahal, psikologi pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh bakat sejak lahir. Cara seseorang memandang proses belajar justru memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilannya.

Konsep tersebut dikenal sebagai growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan, kemampuan, dan keterampilan dapat berkembang melalui usaha, strategi belajar yang tepat, latihan yang konsisten, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Konsep growth mindset pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Carol S. Dweck dari Stanford University. Dweck membedakan dua pola pikir dalam belajar, yaitu fixed mindset dan growth mindset.

Seseorang dengan fixed mindset percaya bahwa kecerdasan merupakan sesuatu yang tetap sehingga kegagalan sering dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu.

Sebaliknya, seseorang dengan growth mindset memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Kesalahan bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan kesempatan untuk menemukan cara yang lebih baik.

Konsep tersebut bukan sekadar teori. Sebuah meta-analisis terhadap 273 penelitian yang melibatkan lebih dari 365.000 peserta menemukan bahwa growth mindset memiliki hubungan positif dengan prestasi akademik.

Meskipun pengaruhnya secara keseluruhan tidak besar, siswa yang memiliki growth mindset cenderung lebih gigih menghadapi tantangan, lebih terbuka terhadap umpan balik, dan lebih termotivasi untuk terus belajar dibandingkan mereka yang memiliki fixed mindset.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan awal, tetapi juga oleh cara seseorang memandang proses belajar itu sendiri.

Namun demikian, penelitian yang lebih baru juga mengingatkan bahwa growth mindset bukanlah solusi instan. Meta-analisis yang diterbitkan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa program pelatihan growth mindset tidak selalu meningkatkan nilai akademik secara signifikan pada semua peserta didik.

Dampaknya cenderung lebih terasa ketika didukung oleh strategi belajar yang efektif, lingkungan yang positif, serta bimbingan guru. Dengan kata lain, pola pikir berkembang perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar keyakinan bahwa “suatu hari nanti saya pasti bisa.”

Temuan tersebut sangat relevan dengan kehidupan di pondok pesantren. Menjadi santri berarti menjalani proses belajar yang panjang. Menghafal Al-Qur’an tidak selesai dalam hitungan hari. Memahami kitab kuning membutuhkan kesabaran dan latihan bertahun-tahun. Menguasai bahasa Arab atau bahasa Inggris juga memerlukan latihan yang terus-menerus. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh secara instan.

Budaya pesantren sesungguhnya telah lama menerapkan prinsip-prinsip yang sejalan dengan growth mindset. Tradisi murojaah, misalnya, mengajarkan bahwa hafalan akan kuat jika terus diulang. Santri juga terbiasa menerima koreksi dari ustaz atau kiai tanpa menganggapnya sebagai penghinaan.

Sebaliknya, koreksi dipandang sebagai bagian penting dari proses memperbaiki diri. Dalam perspektif psikologi pendidikan, kemampuan menerima umpan balik (feedback) merupakan salah satu ciri pembelajar yang memiliki growth mindset.

Selain itu, kehidupan pesantren membentuk kebiasaan untuk tidak mudah menyerah. Ketika belum mampu memahami pelajaran, santri didorong untuk bertanya kepada guru, berdiskusi dengan teman, atau mengulang kembali materi hingga benar-benar dipahami. Lingkungan seperti ini membantu santri menyadari bahwa keberhasilan lahir dari proses yang dijalani secara konsisten, bukan semata-mata dari bakat.

Prinsip tersebut juga selaras dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan memerlukan ikhtiar. Dalam konteks pendidikan, kemampuan berkembang tidak hanya bergantung pada potensi yang dimiliki, tetapi juga pada kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Rasulullah saw. juga bersabda: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan penghargaan yang tinggi kepada proses menuntut ilmu. Tidak ada syarat bahwa seseorang harus menjadi yang paling pintar terlebih dahulu. Yang ditekankan adalah kesungguhan dalam menempuh jalan ilmu. Semangat inilah yang menjadi inti dari growth mindset.

Meski demikian, memiliki growth mindset bukan berarti mengabaikan pentingnya strategi belajar. Santri tetap memerlukan manajemen waktu, metode belajar yang sesuai, istirahat yang cukup, serta dukungan dari guru dan teman. Oleh karena itu, lingkungan pesantren memiliki peran penting dalam membantu santri membangun pola pikir berkembang melalui budaya disiplin, kebersamaan, dan pembiasaan belajar setiap hari.

Di tengah persaingan akademik yang semakin ketat, pola pikir berkembang menjadi bekal yang sangat dibutuhkan. Santri yang percaya bahwa kemampuan dapat diasah akan lebih berani mencoba, tidak takut melakukan kesalahan, dan menjadikan kegagalan sebagai pengalaman belajar. Sebaliknya, mereka yang menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang tetap cenderung mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Pada akhirnya, menjadi santri bukanlah tentang siapa yang paling cepat memahami pelajaran atau paling banyak menghafal. Menjadi santri adalah tentang kesediaan untuk terus bertumbuh. Growth mindset mengajarkan bahwa setiap langkah kecil dalam belajar memiliki makna. Setiap hafalan yang diulang, setiap kitab yang dibaca, setiap koreksi yang diterima, dan setiap kegagalan yang dihadapi merupakan bagian dari perjalanan menuju ilmu yang lebih luas. Sebab, dalam tradisi Islam, keberhasilan tidak hanya diukur dari hasil yang dicapai, tetapi juga dari kesungguhan dalam menempuh proses menuntut ilmu.

Tinggalkan Balasan