Growth Mindset dan Tradisi Belajar Santri

“Aku memang tidak pandai menghafal.” “Bahasa Arab terlalu sulit.” “Teman-temanku lebih pintar daripada aku.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas dalam pikiran sebagian santri. Ketika menghadapi pelajaran yang sulit, tidak sedikit yang akhirnya menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak berbakat. Akibatnya, semangat belajar menurun bahkan sebelum benar-benar berusaha.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Padahal, psikologi pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh bakat sejak lahir. Cara seseorang memandang proses belajar justru memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilannya.

Konsep tersebut dikenal sebagai growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan, kemampuan, dan keterampilan dapat berkembang melalui usaha, strategi belajar yang tepat, latihan yang konsisten, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Konsep growth mindset pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Carol S. Dweck dari Stanford University. Dweck membedakan dua pola pikir dalam belajar, yaitu fixed mindset dan growth mindset.

Seseorang dengan fixed mindset percaya bahwa kecerdasan merupakan sesuatu yang tetap sehingga kegagalan sering dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu.

Sebaliknya, seseorang dengan growth mindset memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Kesalahan bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan kesempatan untuk menemukan cara yang lebih baik.

Konsep tersebut bukan sekadar teori. Sebuah meta-analisis terhadap 273 penelitian yang melibatkan lebih dari 365.000 peserta menemukan bahwa growth mindset memiliki hubungan positif dengan prestasi akademik.

Tinggalkan Balasan