Guru Intelektual, Guru Spiritual

Menjelang maghrib kami sudah berada di rumah Kang Jamal. Obrolan kami dijeda salat maghrib dan makan malam. Benar adanya, obrolan kami memang random. Di antaranya tentang jejaring duniasantri, penulisan di duniasantri, tradisi pesantren, relasi guru-murid di lingkungan pesantren, dan dinamika intelektual orang-orang pesantren dan bangunan spiritualnya.

Di meja itu, Bro Chandra menumpahkan jejak pengembaraan spiritualnya. Tapi yang terngiang-ngiang di telinga Kang Jamal justru nama Gus Dur. “Apa relasinya dengan Gus Dur, karena nama ini yang terngiang di telinga saya?” tanya Kang Jamal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bro Chandra tak punya jawaban. Karena penasaran, Kang Jamal mencoba menelisik lewat cerita. Jejak-jejak dari masa lalu. Cerita akhirnya meluncur deras. Mulai dari perjalanannya ke Pesantren Cipasung sampai ke Tebuireng, mulai dari ziarah ke makam KH Ilyas Ruhiat hingga ke makam Gus Dur.

Kang Jamal akhirnya tersenyum. Ia sudah menangkap jejak dan pesannya: di dua tempat itu ada jejak Gus Dur; jejak Gus Dur berjuang mempertahankan eksistensi Nahdhatul Ulama (NU) dari kooptasi Orde Baru. Dan dua tokoh ini, Kiai Ilyas Ruhiat dan Gus Dur, menjadi simbol kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) kontemporer. Role model bagaimana mengelola organisasi seperti NU.

Tinggalkan Balasan