Guru Intelektual, Guru Spiritual

Waktu kemudian bergerak mundur ketika beberapa mimpi yang pernah saya alami tumpah di meja persegi panjang itu. Sesekali mimpi bertemu kiai di mana saya pernah mondok, KH Muzakki Syah. Sesekali mimpi bertemu kiai yang bahkan saya belum pernah bertemu langsung dan tak pernah punya relasi apa pun. Misalnya, pernah dua kali saya mimpi bertemu dengan KH Marzuki Mustamar. Pertama hanya berdua, bertemu di suatu tempat. Yang kedua bertemu di rumah Mbah Moen.

Mimpi-mimpi itu hanya seperti puzzle. Tapi Kang Jamal seperti tak percaya kalau di antara semua tokoh yang hadir dalam mimpi itu tak punya relasi, termasuk relasi dengan yang mengalami mimpi. Maka kami pun berkelana ke abad ke-8 M, masa ketika Ibnu Sirin merekonstruksi dan membangun teori mimpi jauh sebelum Sigmund Freud. Jalan spiritual bisa digunakan untuk melacak dan menangkap jejak dan pesan dari mimpi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meja persegi panjang itu kemudian hening. Kami bertawasul kepada semua guru, kepada banyak kiai dari segala zaman. Terbayang, wajah-wajah guru dari masa lalu: dari Mbah Hamid Pasuruan, Mbah Moen Rembang, sampai Kiai Arwani Kudus, dan banyak lagi. Sosok-sosok mereka memenuhi meja persegi panjang yang kami lingkari.

Tabir mimpi mulai terbuka. Sanad keilmuan mulai tersambung meski tetap terlihat samar. Guru menurunkan ilmunya sambung menyambung, dari satu guru ke guru berikutnya. Ketika tabir mimpi itu mulai terbuka, kami tahu bahwa tanggung jawab seorang guru adalah sepanjang waktu, sampai hari akhir tiba. Tanggung jawabnya utuh, tanggung jawab intelektual dan spiritual. Itulah kenapa sosok guru sesekali hadir dalam mimpi kita. Bahkan gurunya guru-guru kita.

Tinggalkan Balasan