kami mengais gersang luka, dari lidah setajam pisau.
dan kami mengupacarakan lejit pongah
yang bertebar di handphone nan televisi.

air mata kami bercampur doa-doa
menetes, tepat musim hijrah ke lumbung samudra.
Pamekasan, 2024.
ORANG-ORANG DESAK
bermacam-macam riak
nelangsa ke riuh
dada.
betapa aku
seumpama pagi
dikepung tekukur
orang.
kepada kota
yang ramai,
kepada desa
yang setiap jengkal
terbuat dari kesunyian.
aku sepi,
tapi kenapa kamu
hendak
mematahkan
takdir?
Pamekasan, 2024.
INTINYA
tetapi aku ditantang kembara api
dalam kematangan jiwa yang jernih.
sedih memang ketika air mata
diam-diam menyimpulkan kehendak luka.
