Harmoni dalam Sinekdoke

Ateng melanjutkan. “Ibu tadi kemudian menawariku lebih. Ia menambahkan menjadi tiga ratus. Aku bergeming. Aku tolak demi harga diri,” Ateng membara.

Koko kaget. “Kamu tolak lagi? Segitu seharusnya sudah bisa bayar listrik, Teng. Benar-benar kamu ya…”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ini harga diri Ko! Aku bukan tipe lelaki gampangan. Terus ibu tadi menambahkan lagi dua ratus ribu menjadi lima ratus ribu. Wah… imanku goyah.”

Kaji dan lainnya khusyuk mendengarkan. “Pasti kali ini kamu terima.”

Ateng dengan serius ingin menuntaskan demi melihat kawan-kawannya yang sudah terlarut hanyut dalam alur ceritanya. “Waktu aku mau menerima, tiba-tiba dari arah belakang, ada yang menepuk punggungku, ‘Van… Ovan… Sahur le, sebentar lagi imsak lo,’ ternyata bapakku membangunkanku.”

Berlima kawanan itu terdiam, menyesal telah menghabiskan waktu mendengar cerita ‘mimpi’ itu, kecewa kok mau-maunya terlarut mendengarkan. Ateng tertawa penuh kemenangan melihat temannya berhasil ditipunya.

Begitulah, suasana kontrakan. Ramai, sinekdoke pars pro toto dan totem pro parte. Bagian untuk keseluruhan dan keseluruhan untuk sebagian. Harmoni. One Piece seperti anime favorit Koko.

Tak terasa semester tujuh sudah dilalui. Semester delapan sudah membayangi. Setengah ajuan skripsi di semester tujuh dan yang kedelapan harus sudah maju untuk kompre. Suasana kontrakan sedikit terkurangi keseruannya. Masing-masing sibuk menenggelamkan diri agar cepat selesai.

Tidak hanya kuliah yang diuji, tapi persahabatan berenam ini juga sedang diuji. Kabar dari Koko membuat teman sekontrakan kaget. Koko ingin pindah kontrakan. Karena adiknya juga di Malang dan diminta orang tuanya untuk tinggal satu kontrakan dengan adiknya. Kontrakan kehilangan gairahnya. Koko memang beda. Ia memang China, sering dipandang sebelah mata oleh teman-teman kuliah yang lainnya. Tapi, dengan teman kontrakan ia menemukan harmoni. Tak canggung ia join kopi satu gelas dengan teman lainnya. Jika ada yang mendiskriminasinya, kelima teman kontrakannya siap membelanya. Koko memang China bukan pula seagama, tapi persahabatan karib mematahkan dogma tersebut.

Sudah dua bulan Koko jarang menemui lima karibnya di kontrakan lawasnya. Jika bertemu di kampus pun, Koko sepertinya terburu-buru. Tidak mau lagi berlama, cangkrukan dengan sahabat lamanya.

“Koko melupakan kita. Ia kembali ke habitatnya,” Gondrong memulai obrolannya.

“Maksudmu, Ndrong?” Kaji menyelidik.

“Ia hanya mau berteman dengan golongannya, tidak dengan kita. Lihatlah sikapnya dua bulan ini,” Gondrong menjelaskan.

Abud sedikit menenangkan. “Hush! Jangan berburuk sangka! Mungkin dia sedang sibuk atau melakukan apa yang tidak kita ketahui.”

Ambon menyetujui Abud. “Iya, kita lihat saja dulu. Nanti kalau kita ketemu, kita ajak ngobrol lagi.”

“Aku juga butuh Koko, banyak yang ingin kutanyakan tentang skripsiku. Koko… Koko… lupakah kamu dengan persahabatan kita?” Ateng mendesah. Sesak. Kontrakan memang terasa beda tanpa Koko.

Benar saja. Koko mengirimi undangan lewat WA. Ia mengundang kawan berlima ke kontrakan barunya. Ada jamuan kecil-kecilan katanya. Kaji dan kawan-kawan pergi memenuhi undangan tersebut. Ternyata, sampai ia di sana sudah banyak yang berkumpul. Koko juga mengundang ‘golongannya’. Kami merasa sedikit kikuk. Begitu juga waktu acara makan-makan. Berlima disendirikan, disediakan ruang khusus di dalam. Koko dan ‘golongannya’ makan-makan di halaman. Berlima merasa ditirikan, dipinggirkan. Meski sesekali Koko datang mengobrol, tapi sudah berbeda. Akhirnya, mereka berlima pulang tanpa sepengetahuan Koko. Tanpa pamit. Pulang begitu saja, kembali ke kontrakan.

Mengetahui hal tersebut, Koko kecewa. Ia merasa dilupakan. Segera Koko menyusul ke kontrakan lama untuk menjemput kembali kawan-kawannya.

“Hei, kenapa kalian tanpa pamit langsung pulang?” tanya Koko sesampai di eks-kontrakannya.

“Kamu beda sekarang, Ko! Kami bukan lagi berada dalam levelmu,” Kaji menjawab.

“Maksudmu apa, Ji?” Koko bingung.

“Kamu beda Ko. Pertama kamu tiba-tiba memutuskan mencari kontrakan,” jelas Gondrong.

“Kedua, di jamuan tadi. Kamu seolah tidak mengenal kami. Kami asing di matamu,” Ambon menambahkan.

Giliran Abud berbicara. “Maaf, Ko! Jika ini tentang masalah etnis tidak mengapa. Tapi, kenapa waktu acara makan-makan, kamu menyendirikan dan menempatkan kami di tempat yang berbeda.”

Tinggalkan Balasan