Harmoni dalam Sinekdoke

Koko terperanjat. Masalah etnis memang teramat sensitif. Pikirnya, bukankah selama tiga tahun lebih di kontrakan tidak mengubah pandangan teman-temannya. Ia kecewa. “Baik! Aku jelaskan. Adikku terkena traumatis yang dalam. Rumahku di Kupang terkena penjarahan massal. Makanya orang tuaku memintaku untuk menemani adikku agar bisa mengurangi efek traumanya.”

Ateng angkat bicara. “Sudah jangan berdalih, Ko! Di acara tadi kamu jelas seakan tidak peduli. Apalagi ketika acara makan. Kamu bukan Koko yang kami kenal!”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Emosi Koko meledak, “Terserah! Jika kalian tidak percaya. Kalau aku tidak peduli, kenapa aku mengundang kalian. Mereka kerabatku. Aku bolak-balik menemui kalian, menemui kerabatku, menemui kalian lagi. Aku mondar-mandir, kesana-kemari, mencoba akrab dengan semua bisa agar bisa membaur.”

Gondrong yang tersulut berbicara lantang. “Ko! Maksudmu apa menempatkan kami di tempat berbeda. Apa kamu ingin membagi seperti VOC. Kasta satu orang Hindia Eropa. Kasta dua, orang Cina, Arab, dan India. Dan Bumiputera sebagai kasta ketiga. Tega kamu, Ko! Ingat! Kita pernah satu kontrakan. Satu gelas kopi.”

Koko muntap. “O… ternyata kalian dangkal! Aku membedakan tempat, justru karena aku menghormati kalian. Yang disantap di jamuan aku buat beda. Yang di luar itu menu daging yang haram orang Islam makan. Lengkap dengan minumannya juga. Apakah kalian mau? Ha!!”

Kaji dan Ambon mencoba melerai, memahami kekhilafan mereka. Namun, telanjur. Koko pergi dengan kekesalan, kekecewaan, dan kemarahan yang benar-benar.

Kosong. Koko tak pernah menemui lima sahabatnya lagi. Begitu juga sebaliknya. Jika berpapasan, sudah seperti orang asing. Begitu juga antarlima sabahabatnya. Sahabat ‘sinekdoke’ benar-benar diuji. Mereka berlima pun berpisah. Karena kegiatan kampus hanya menyisakan yudisium, mereka kembali ke tempat asal. Menunggu pengumuman wisuda. Koko tetap di Malang menemani adiknya yang belum selesai kuliahnya.

Naas! Kaji dihubungi adiknya Koko setelah mengetahui nomor dari ponsel Koko. “Ini Mas Kaji ya? Ini adiknya Koko.”

Kaji dari seberang gugup menjawab, sepertinya sudah firasat. “Iya, iya, ada apa? Kamu Toni, kan, adiknya Koko?”

“Benar, mas! Jadi gini, Papa tadi pagi kecelakaan di Malang. Sekarang di rawat di Claket. Papa kehilangan banyak darah. Papa perlu transfusi darah. Darah papa tergolong langka. Jadi…,” terdengar Toni terisak.

Kaji semakin gugup. Ia memang pernah bertemu papanya Koko, meski tidak akrab. Kaji jelas membayangkan kepanikan Koko dan adiknya. “Gimana Ton? Aku bisa bantu gimana?”

“Persediaan darah di rumah sakit yang sama dengan golongan papa stoknya terbatas. Ini lagi menghubungi PMI. Tadi, mas Koko ingat, dulu waktu donor bareng mas Kaji, ternyata golongan darahnya mas sama dengan papa. Tapi, Mas Koko sungkan mau menghubungi Mas Kaji. Toni pun nekad menghubungi mas untuk minta bantuan mas…,” bip. Suara handphone mati.

Kaji segera menghubungi lima teman untuk mengabarkan perihal papanya Koko. Kaji segera bersiap. Jarak dari Kediri kurang lebih empat sampai lima jam ke arah Malang. Kaji bergegas. Sesampai di rumah sakit, Kaji menjalankan proses transfusi darah ke papanya Koko.

Tiga hari berselang, papanya Koko sudah siuman. Koko dan keluarganya tenang karena masa kritis terlewati. Kaji, Gondrong, Ambon, Abud, dan Ateng sudah satu hari menginap di lobi. Tetap dalam diam, tapi sesungguhnya peduli. Koko menghampiri mereka berlima yang tengah rebah di teras musola rumah sakit.

“Papa sudah siuman,” Koko mengabarkan

“Alhamdulillah…,” semua memanjatkan syukur.

“Ko, kami minta maaf atas kejadian yang lalu,” berkata Kaji seraya mendekati Koko.

Dengan haru Gondrong juga mendekat, “Aku salah Ko! Aku terlalu emosi waktu itu!”

“Aku juga Ko! Mungkin terlalu cepat menyimpulkan kejadian dulu,” Ambon menegaskan kembali.

“Aku terlalu naif, Ko! Berpikir sempit. Tapi yang jelas, kamu yang dulu, sekarang, dan nanti tetap menjadi sinekdoke bagi kami,” Abud tidak kuasa menahan buliran air yang keluar dari matanya.

Giliran Ateng mendekat. “Ko! Aku juga harus mengakui, bahwa aku juga adalah china.”

Kami sedikit kaget. “China dari mana, Teng? Mbah atau buyutmu?” tanya Koko.

“Bukan, Hp-ku merek china,” jawab Ateng sekenanya. Tawa mereka langsung meledak.

Lalu mereka bersalaman. Persahabatan itu telah kembali. Beda suku, bermacam agama, beraneka ras, tanpa menjadi syaratnya. Menjadi harmoni dalam sinekdoke pars pro toto ataupun totem pro parte. Keseluruhan untuk bagian dan bagian untuk keseluruhan.

Tinggalkan Balasan