Misalnya, mengerjakan apa yang diperintagkan kiai atau memperoleh nasihat dari kiai dengan gaya dan cara khas merupakan salah satu bentuk kepedulian kiai terhadap santri untuk memberikan pendidikan karakter dan pendidikan spiritual. Tidak ada kiai yang mau santri yang belajar di pondok pesantrennya menjadi orang yang tidak bermanfaat bagi keluarga dan bagi masyarakat pada umumnya. Karena itulah, dengan berbagai cara dan gaya, seorang kiai akan memberikan pendidikan terbaik kepada semua santrinya.
Seperti kita lihat banyak contoh pada umumnya kiai yang sudah tersohor namanya di dunia pondok pesantren atau di Indonesia. Mereka berhasil dalam berdakwah bukan hanya mengandalkan intelektual. Saat masih menjadi santri, para ulama ini memiliki hubungan batin dengan semua gurunya sehingga gurunya pun meridai segala hal kebaikan yang dilakukan oleh ulama tersebut. Hal itu yang memudahkan kesuksesan ulama atau kiai tersebut dalam berdakwah atau menyebarluaskan ajaran-ajaran yang telah diajarkan di pondok pesantren. Karena, pada hakikatnya, guru itu merupakan orang tua kita juga. Orang tua dalam bidang pendidikan kita, dalam membentuk moral dan intelektual kita.

Oleh karenanya, jika mengaku sebagai santri, maka kita harus mengikuti dan meyakini sepenuhnya bahwa guru kita, kiai kita, akan membawa kita menjadi orang yang lebih baik sebagaimana pada potongan nadzom imriti yang berbunyi و كل من لم يعتقد لم ينتفع , yang artinya “setiap orang yang tidak berkeyakinan, maka ia tidak dapat memperoleh manfaat.”
