Di tengah cuaca politik yang kurang bersahabat dan krisis iklim akhir-akhir ini, muncul sebuah ironi yang sedikit menggigit negeri ini, dengan tiga pertanyaan berbentuk meme di media sosial; jika sulit mendapat air, bagaimana hukum berwudhu menggunakan Pertamax campuran? Bolehkah tayamum menggunakan nikel? Apakah lempar jumrah boleh menggunakan batubara?”
Ekspresi kritik dengan bentuk meme yang lahir dari budaya internet ini, agaknya sudah dianggap sebagai ancaman politik atau dilebih-lebihkan sebagai kritik terhadap pribadi. Karena kita tahu, belum lama ini, kasus pelaporan meme yang dianggap menghina tokoh publik, seperti sayap pemuda Partai Golkar yang melaporkan akun pembuat meme Bahlil Lahadalia ke polisi, sudah memperlihatkan betapa rapuhnya toleransi kita terhadap kebebasan berekspresi.

