Humor dan Hal-hal Ilahiah Lainnya

Di suatu majelis, sang guru Imam Malik menerangkan bahwa rezeki dari Allah itu akan datang tanpa sebab. “Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” demikian pendapat Imam Malik sembari mengutip sebuah hadits sebagai dalilnya.

Rupanya sang murid, Imam Syafii tak sependapat. “Ya Syeikh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” katanya. Imam Syafii berpendapat, rezeki tak bisa datang sendiri. Diperlukan usaha dan kerja keras untuk memperolehnya. Hingga majelis bubar, keduanya masih berselisih.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di hari lain, ketika sedang berjalan-jalan, Imam Syafii melihat serombongan orang sedang memanen buah anggur. Sang Imam pun ikut membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii mendapat imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Senang usahanya mendapat imbalan, Imam Syafii mendatangi Imam Malik guna memperkuat argumennya.

Imam Malik sedang duduk santai ketika Imam Syafii datang. Dengan tersenyum, Imam Syafii menaruh seluruh anggur di meja di depan Imam Malik. “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur (rezeki) itu tidak akan pernah sampai di tangan saya,” kata Imam Syafii.

Imam Malik langsung mengambil anggur di depannya dan mencicipinya. Sembari tersenyum, ia berkata, “Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau di hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakal yang benar kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Keduanya langsung tertawa bersama. Begitulah, perdebatan di antara orang-orang cerdas diakhiri dengan humor.

Tinggalkan Balasan