Humor dan Hal-hal Ilahiah Lainnya

Ada masanya, memang, humor adalah sebentuk perlawanan. Baik, misalnya, perlawanan terhadap rezim otoriter maupun tekanan hidup yang tak terperi. Itulah kenapa, di negara-negara otoriter seperti Rusia sebelum Uni Soviet bubar, humor beredar cepat dari satu orang ke lain orang hingga pada 1980-an muncul buku humor yang sangat popular, Mati Ketawa ala Rusia. Di Indonesia buku ini laris karena rakyat hidup di bawah tekanan rezim Orde Baru. Latar yang sama yang menginspirasi lahirnya humor-humor seperti Mati Ketawa ala Rusia itu.

Gus Dur, yang humornya dikutip Ismasil Ahmad itu, adalah salah satu simbol perlawanan terkuat terhadap otoritarianisme Orde Baru. Padahal, saat itu ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), ormas Islam terbesar di Indonesia. Namun, sebagai tokoh genius, ia tidak membawa organisasinya, atau mendorong massa pendukungnya, untuk melalukan perlawanan. Ia justru banyak menggunakan humor atau joke-joke untuk memberikan perlawanan terhadap tirani penguasa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Humor memang tidak bisa menjatuhkan pemerintah, tetapi humor bisa membantu membusukkan rezim,” itulah kutipan Gus Dur tentang salah satu pentingnya humor.

Ada masanya, humor menjadi sebentuk perlawanan terhadap tekanan hidup. Katakanlah sebagai katalisator, yang dalam ungkapan Gus Dur menjadi seperti ini: “Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita menjadi lebih sehat.”

Itulah kenapa, di Indonesia, kelompok masyarakat yang dikenal paling tahan banting, dan juga paling adem, dalam menghadapi berbagai situasi dan dinamika sosial-politik adalah warga nahdliyin, kaum santri. Mereka sudah terbiasa dengan humor, joke, lelucon, dan sebangsanya. Alam pikirannya menjadi lebih sehat dengan humor.

Humor, atau sense of humor, itulah yang absen di negeri ini sekarang. Sehingga yang meraja adalah hate speech dan hoax. Lalu kita mau menyebutnya apa: tragedi atau justru komedi itu sendiri?

Tinggalkan Balasan