Islam Nusantara dan Kesalehan Virtual

Di sini saya tidak ingin menjustifikasi bahwa ustaz dan kiai yang hadir di ruang virtual sebagai produk instan. Akan tetapi, untuk berguru dan mencari referensi keagamaan dibutuhkan guru yang kompeten di bidangnya, bukan sembarang orang, apalagi mereka yang kecenderungan berdakwah di media sosial dengan caci maki, ujaran kebencian atau bahkan menyisipkan ideologi transnasional dan radikalisme.

Sejauh ini, media sosial mampu membentuk karakter keberagamaan masyarakat Indonesia. Apalagi media sosial terbukti menjadi locus dakwah Islam progresif bekalangan ini. Alih-alih mengukuhkan nilai-nilai dan spirit Islam rahmatan lil ‘alamin, melainkan semakin mempertebal jurang kecemasan di antara umat beragama. Dakwah yang dibawa justru memukul, bukan merangkul. Ini merupakan potret dari pola keberagamaan yang lahir dari proses instan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fakta menjamurnya dakwah online, di mana hal itu masih dikuasai oleh paham keagamaan transnasional yang satu paket dengan paham-paham terorisme, dan kekhalifaan. Apabila hal ini tidak segera diseimbangi, maka bukan hanya paham keagamaan Nusantara yang terancam, bahkan nasionalisme berkebangsaan juga memiliki nasib yang buruk. Padahal jauh-jauh hari, Presiden Jokowi sudah berjanji akan memerangi ideologi. Tapi hal itu akan utopis jika tidak diseimbangi oleh peran para tokoh agama Islam Nusantara. Dari sini, kemudian penting untuk menumbuhkan kesadaran kesalehan virtual yang terejawantahkan dalam bentuk membangun situs, akun-akun online sebagai bentuk penyeimbang.

Tinggalkan Balasan