Menerjemahkan Islam rahmatal lil alamin memang hal yang mudah, tinggal ambil Al-Qur’an dan temukan artinya. Tapi yang saya maksud bukan arti secara tekstual. Namun secara implementatif sebagai muslim. Sebab saya katakan demikan, masih cukup banyak orang yang melabelisasi dirinya Islam, tapi tidak mencerminkan Islam itu sendiri.
Dapat dilihat secara sederhana orang-orang yang mengaku paling Islam dalam menyikapi suatu persoalan keagamaan. Apakah benar Islam tampil dengan wajah seperti yang mereka lakukan dan contohkan? Tentu ini tidak mudah menyaringnya, sebab ini menyangkut persoalan yang erat hubungannya dengan sumber hukum Islam.

Minimalnya ada beberapa indikator yang dapat kita lihat dari karakter ber-islam mereka. Pertama, suka mengkafirkan orang yang berbeda dengan pahamnya. Kedua, selalu membidahkan kebiasaan atau budaya baru. Ketiga, Pancasila dianggap toghut ( menyembah selain Allah). Semuanya itu mencitrakan implementasi hukum Islam hanya secara tekstual, lagi-lagi tak berijtihad dalam persolan fikih. Sehingga gampang mengambil sikap yang mereka anggap benar.
Padahal Islam tidak demikian, yang sedikit-sedikit kafir dan bidah. Jika terus begitu, bagaimana bisa menghadirkan wajah Islam yang damai dan indah. Jika ketenteraman itu sendiri diusik dengan perilaku yang tidak islamis. Oleh karenanya, perlu kemudian menelaah kembali dan belajar kepada ahlinya dalam ber-islam, agar tidak terdoktrinasi pada keterbatasan tekstual dalam menyajikan hukum.
Memang benar, wajah Islam bisa dilihat dengan siapa kita belajar agama Islam. Pintu atau proses keberislaman menentukan pola dan karakter dari seseorang dalam beragama. Jika awalnya sudah masuk dalam ruang jihadis, maka sangatlah berbahaya. Karena ia tidak mengenal ukhuwah wathaniyah (saudara sebangsa dan satu tanah air). Bagi mereka nasionalisme tidak ada. Apalagi hidup berdampingan dengan nonmuslim. Mereka menganggap golongan tersebut wajib disingkirkan karena dianggap berada dalam jalan yang sesat. Padahal hidup di Indonesia yang berasaskan Pancasila sah-sah saja dalam perbedaan agama, ras, suku, dan bahasa.
