Pernahkah berada dalam situasi melihat sebuah ketidakadilan di depan mata—entah itu di dunia nyata atau di linimasa media sosial—namun kita memilih untuk mengunci mulut rapat-rapat?
Di era digital saat ini, fenomena “diam demi aman” atau silent bystander menjadi makin sering kita jumpai. Kita sering beralasan, “Ah, bukan urusanku,” atau “Daripada cari masalah, lebih baik diam.”

Namun, ada sebuah tamparan keras dari sebuah ungkapan Arab klasik yang rasanya perlu kita pajang besar-besar di dinding kesadaran kita:
الساكت عن الحق شيطان أخرس
Artinya: “Orang yang diam terhadap kebenaran adalah setan bisu.”
Ungkapan ini bukan sekadar pepatah lama. Ini adalah teguran keras bagi siapa pun yang mengetahui kebenaran, keadilan, atau kebenaran universal, tetapi memilih untuk menutup mata, telinga, dan mulut mereka.
Sebagai seorang penulis yang sering mengamati dinamika sosial, saya merasa ungkapan ini sangat relevan untuk dibedah lebih dalam. Mengapa maknanya bisa se-ngeri itu? Mari kita ulas bersama.
Kenapa Setan Bisu
Untuk memahami mengapa peringatan ini begitu tajam dan menusuk, mari kita bedah arti katanya satu per satu secara harfiah dan kontekstual:
الساكت (Al-Saakit) artinya “orang yang diam”. Dalam konteks sosial, ini merujuk pada mereka yang sebenarnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan pengetahuan tentang sebuah kebenaran, namun tidak memiliki keberanian untuk menyuarakannya.
