“bukan hanya piano yang tidak dimainkan; dalam setiap apartemen juga terdapat sebuah lemari kaca yang memamerkan aneka porselin, cangkir teh, perangkat perak, mangkuk gula, kotak tembakau, gelas kristal, kendi air mawar, piring dan tempat pembakar dupa yang tidak pernah disentuh siapa-siapa… Ruang duduk bukan dimaksudkan sebagai tempat orang berharap dapat duduk dengan nyaman; ruangan itu merupakan museum kecil yang dirancang untuk memamerkan kepada para tamu bahwa pemilik rumah adalah orang yang berpikiran Barat.” (hal 12-13).
Ia juga menunjukkan bahwa secara pribadi, seperti juga orang-orang lain di kotanya, merasakan kemuraman dan melankolia dengan alasan yang berbeda-beda tapi nyaris sama.

“…setelah Kesultanan Usmani ambruk, dunia nyaris lupa bahwa Istanbul ada. Kota tempat saya dilahirkan ini lebih miskin, lebih kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi saya, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan. Saya menghabiskan hidup memerangi kemurungan ini atau (seperti semua penduduk Istanbul) menjadikannya sebagai kemurungan saya.” (hal 6-7)
Bagi Pamuk, berbicara mengenai kota Istanbul dalam memoarnya adalah juga berbicara tentang diri penduduknya dan ‘huzun’ yang mereka rasakan; “perasaan yang dipikul oleh kota Istanbul sebagai takdirnya.” (hal. 127)
