Konuk (2011) dalam penelitian yang menggunakan buku Pamuk ini sebagai korpusnya, menegaskan bahwa memoar ini memang berpusat di konsep ‘huzun’ sebagai melankolia kolektif yang dirasakan oleh semua penduduk Istanbul yang membuat mereka tidak bisa ‘memandang’ Istanbul murni dari mata mereka, sehingga sejarah yang kemudian muncul tentang kota Istanbul adalah sejarah yang tidak otonom melalui mata Barat.
Ini diafirmasi Pamuk dalam tulisannya di memoar tersebut: “Jadi, ketika majalah-majalah atau buku-buku sekolah membutuhkan suatu gambaran tentang Istanbul, mereka menggunakan lukisan-lukisan hitam putih yang dibuat oleh para kelana dan seniman Barat” (hal. 63)

Pamuk menunjukkan bahwa ‘huzun’ ini kurang lebih muncul (salah satunya) karena ada peralihan antara masa lalu dan masa sekarang. Masa lalu yang direpresentasikan oleh kejayaan Kesultanan Usmani dan masa sekarang yang direpresentasikan oleh keruntuhan Kesultanan Usmani dan terbangunnya Republik Turki, sebuah negara sekuler Attaturk, homogen, dan beorientasi Barat.
Meskipun demikian, tidak bisa dimungkiri bahwa memandang Istanbul dari mata Barat ini memberi orang-orang Istanbul kemewahan untuk menyadari keindahan kota tempat tinggal mereka yang penuh kemurungan itu.
