Isykal Kitab: Tradisi Kritis Pembelajaran di Pesantren

Di tengah perkembangan teknologi digital, tantangan baru mulai muncul. Berbagai kitab telah tersedia dalam bentuk digital lengkap dengan terjemahannya. Kondisi ini tentu memudahkan proses belajar. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga dapat menimbulkan anggapan bahwa memahami kitab cukup dengan membaca hasil terjemahan. Padahal, banyak isykal yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui terjemahan. Ada nuansa bahasa, konteks sejarah, metode istinbath hukum, bahkan perbedaan istilah yang hanya dapat dipahami melalui bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan.

Karena itulah pesantren tetap mempertahankan tradisi talaqqi, yaitu belajar langsung kepada kiai atau ustaz. Dalam tradisi ini, ilmu tidak hanya berpindah melalui tulisan, tetapi juga melalui penjelasan, contoh, adab, dan keteladanan. Seorang guru tidak sekadar menerjemahkan teks, melainkan membantu santri memahami maksud penulis, menjelaskan latar belakang pembahasan, sekaligus meluruskan pemahaman yang keliru. Di sinilah isykal menjadi media pendidikan yang sangat berharga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tradisi ini menjadi sangat relevan di tengah derasnya arus informasi saat ini. Banyak orang mudah menyimpulkan persoalan agama hanya dari potongan video, unggahan media sosial, atau terjemahan singkat tanpa memahami konteksnya. Padahal, satu persoalan fikih sering kali memiliki penjelasan yang panjang dan mendalam. Kebiasaan mengurai isykal mengajarkan santri untuk tidak mudah menyederhanakan persoalan yang sebenarnya sulit.

Maka, ketika seorang santri berkata: “Saya menemukan isykal dalam kitab ini,” sesungguhnya ia tidak sedang mengeluhkan kesulitan. Ia sedang membuka pintu menuju pemahaman yang lebih luas.

Dari ruang-ruang sederhana di pesantren, tradisi isykal terus diwariskan sebagai bukti bahwa ilmu berkembang melalui ketekunan membaca, keberanian bertanya, dan kerendahan hati untuk terus belajar. Itulah wajah pesantren yang sesungguhnya: tempat di mana setiap pertanyaan bukan untuk dipadamkan, melainkan untuk diterangi dengan cahaya ilmu.

Tinggalkan Balasan