Itulah awal mula berdirinya Pondok Jalen, yang terjadi sekitar tahun 1880 atau 1882. Seiring berjalannya waktu, nama Pondok Jalen mulai dikenal ke berbagai daerah, Basyar juga dikenal sebagai kiai yang alim, berilmu tinggi, dan memiliki karomah. Karena itu, santri pun berdatangan dari berbagai daerah. Misalnya, KH Mukhtar Syafaat dari Kediri, KH Kholil dari Bangkalan, Madura, serta Kiai Abdul Manan dan Kiai Askandar yang juga dari Kediri. Kelak, KH Mukhtar Syafaat mendirikan pesantren di Blokagung, KH Kholil mendirikan pesantren di Bangkalan, Kiai Abdul Manan dan Kiai Askandar mendirikan pesantren di daerah Sumberberas, Banyuwangi.
Kiai Abdul Manan ini kemudian dinikahkan dengan putri Basyar yang bernama Asminatun. Pasangan ini kemudian kemudian mempunyai seorang putri, yang akhirnya dijodohkan dengan Kiai Askandar. Dari sini, mata air kepesantrenan Pondok Jalen mengalir sampai jauh, hingga berbagai pelosok Nusantara.

Sepeninggal Kiai Basyar pada 1915, Kiai Abdul Manan yang kemudian dipercaya meneruskan kepemimpinan pesantren. Namun, selang beberapa tahun, pesantren tersebut diserahkan kepada adik iparnya yang ketiga, Kiai Mawardi. Sebagai satu-satunya anak lelaki, Kiai Mawardi merupakan pewaris utama dari pesantren tersebut. Kiai Manan sendiri memilih mendirikan pesantren baru di Sumberberas, Muncar.
