Rupanya, Kiai Madunus jatuh hati kepada kecakapan dan kecerdasan santrinya ini. Karena itu, setelah beberapa menjadi santrinya, Kiai Madunus mengambilnya sebagai menantu. Basyar dinikahkan dengan putrinya. Rupanya, menjadi menantu tak menghalangi kebiasaan Basyar untuk berkelana. Setelah beberapa lama berumah tangga, Basyar pamit ingin melanjutkan pengembaraannya. Istrinya dibawa serta.
Selain ditemani istrinya, dalam pengembaraan yang tak tentu tujuannya ini Basyar diiringi oleh 7 orang temannya sesama santri —ada yang menyebut 60 orang santri. Pengembaraan Basyar terhenti di pinggir sebuah kali di daerah Banyuwangi. Saat itu, Dusun Jalen, Desa Setail, ini masih berupa hutan belantara. Karena merasa cocok di tempatnya, Basyar kemudian mengajak kawan-kawannya untuk babat alas, membuat permukiman di sini.

Semula, niat Basyar hanya bermukim, tak ada rencana untuk membangun pesantren. Ia, bersama kawan-kawan santrinya, membangun rumah-rumah sederhana dari bahan-bahan yang tersedia di hutan yang baru dibabat itu. Namun, lama-lama banyak warga yang datang untuk mengaji setelah tahu bahwa Basyar adalah seorang yang alim. Para santri yang berdatangan dari berbagai tempat ini kemudian membangun pondokan di sekitar rumah Basyar. Pondokannya berupa bilik-bilik angkring yang bahannya dari hutan sekitar.
