Jalen, Mata Air Pesantren di Ujung Timur Jawa

Kini, namanya tak segegap gempita pondok-pondok pesantren besar yang bertebaran di Pulau Jawa, khususnya. Namun, pada abad ke-19 dulu, ia pernah menjadi padepokannya kiai-kiai besar yang kemudian mengembangkan pesantren tak hanya di Banyuwangi, tetapi juga di daerah lain, hingga ke Madura.

Sesuai dengan nama tempatnya, dulu ia disebut Pondok Pesantren Jalen. Terletak di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Walinya para wali, KH Syaikhona Kholil Bangkalan, disebut-sebut pernah nyantri di sini selama tiga tahun. Kiai Kholil kemudian menjadi gurunya banyak kiai besar, terutama KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). KH Mukhtar Syafaat, pendiri Pondok Pesantren Blokagung Banyuwangi, juga pernah mondok di Pesantren Jalen. Tercata juga, KH Abdul Manan dan KH Askandar, para perintis pesantren di Banyuwangi, juga pernah menjadi santri di Pondok Jalen ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perintis Pondok Jalen adalah KH Abdul Basyar, yang sebelumnya dikenal sebagai seorang santri kelana asal Banten. Tak ada catatan yang pasti soal tanggal lahir KH Abdul Basyar. Sejarah mulai mencatat namanya ketika Basyar menjadi santri kelana, pindah satu pesantren ke pesantren lainnya untuk berguru. Pertama-tama, Basyar mondok Pesantren Ringin Agung, Kediri dan berguru kepada Kiai Nawawi. Dari sini, Basyar berpindah pondok. Kali ini ke Jepoko, Blitar dan berguru kepada Kiai Madunus.

Tinggalkan Balasan