JALU

Pagi ini, Jalu kembali mendaras al-Mulk dan menghidupkan kembali sosok ibunya lewat kenangan dan suara-suara merdunya yang seolah terdengar bersahut-sahutan bersamanya. Ketika usai, barulah Jalu menyadari, bahwa di sampingnya ada Kiai Soleh. Refleks, Jalu mengusap air matanya lalu mengambil tangan kanan Kiai Soleh, bersalaman dan menciumnya. Sambil mengusap kepala Jalu, Kiai Soleh berbisik lirih, “Alladzii kholaqol mauta walhayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala… mati dan hidup itu ujian, Nak…”

Jalu terdiam. Dalam batinnya, ia seolah mengulang kembali bacaan al-Mulk-nya. Perlahan, air matanya menitik, dan buru-buru ia usap dengan tangannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Keluargamu meninggal, itu bukan kesalahanmu. Apalah daya hati menanggung yang sedemikian berat yang bahkan bukan kesalahanmu? Hanya karena kau satu-satunya yang hidup, anakku, janganlah merasa bersalah. Allah selalu punya rencana, jika kau tak hidup, kau tidak mengenalku, kau tidak akan di sini, mengenang keluargamu. Menyesalkah sudah mengenalku?”

Jalu menggeleng. Tidak berani menjawab. Ia menunduk. Dalam-dalam.

“Janganlah menyesali kehidupan yang kau miliki. Itu tidak elok. Berbahagialah. Bersyukurlah.” Kiai Soleh mengusap kepala Jalu sekali lagi, setelah itu beliau bangkit. Meninggalkan Jalu sendirian dan duduk jauh di depan sana. Di tangan kanan Kiai Soleh, selalu ada tasbih berwarna hijau yang sudah lusuh. Dari tempatnya duduk, Jalu bisa mendengar Kiai Soleh beristighfar lalu mengucap tahmid. Begitu berulang-ulang. Dari sudut matanya, Jalu melihat jari-jemari Kiai Soleh bergerak bersama butiran tasbih. Di sela-sela dzikirnya, Kiai Soleh beberapa kali memanjatkan sholawat. Jalu menangis.

**

“Kiaii, si blirik sudah melahirkan, bayinya tiga,” Jalu mengabarkan dengan binar di matanya. Kiai Soleh yang tengah mengajari santri meracik rabuk (pupuk tradisional) menoleh. Tatapannya berhenti di sepasang tangan Jalu yang berlumur darah. Beliau tersenyum dan melambaikan tangannya, berbicara lewat sorot mata bahwa sebentar lagi beliau akan menyusul ke kandang kambing untuk menengok si blirik. Jalu tersenyum dan berlari kembali ke kandang lebih dulu.

Jalu dan Amad membersihkan kandang kambing bersama dan terdengar tawa berderai Jalu. Untuk pertama kalinya dia menolong persalinan kambing yang ia beri makan setiap hari, si blirik. Amad yang sedari tadi membantu Jalu diam-diam memandangi Jalu sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak belasan tahun bersama, Amad melihat Jalu tertawa dan bahagia.

“Rumputnya diganti ini saja, yang lebih segar,” ucap Jalu sambil tersenyum.

Amad tertawa, dan dengan sigap mengganti rumput yang sudah mengering di hadapan kambing-kambing itu dengan yang baru. Dilihatnya Jalu membawa air seember ke hadapan si blirik sambil nyengir.

“Air apa itu?” tanya Amad.

“Air leri. Sampeyan tau leri? Itu loohh, air perasan beras…” jawab Jalu sambil menunjukkan air berwarna susu di dalam ember di hadapannya kepada temannya.

“Hahaha, lain kali, bikinkan jangan menir sekalian,” ledek Amad. Jangan menir adalah sayur bening berisi bayam dan jagung muda. Biasanya ibu-ibu yang baru melahirkan suka mengkonsumsi jangan menir.

“Iyah. Nanti mau bikin jangan menir buat sampeyan. Kalau buat si blirik, nanti dimasakin kangkung kuah saja. Sudah beli kangkung tadi. Tinggal dimasak,” timpal Jalu. Amad makin terkekeh.

“Sekarang sampeyan lebih manusiawi, lebih sering tersenyum, nggak seperti kemarin-kemarin, serem…” ucap Amad sambil nyengir.

Tinggalkan Balasan