JALU

Jalu melongo. Sedetik kemudian dia menepuk punggung Amad dan terkekeh. “Maafin saya ya yang kemarin-kemarin,” ucap Jalu tulus.

“Sama-sama, maafin saya juga ya…” dan ketika Amad ikut menepuk punggung Jalu, Jalu memekik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tangan sampeyan habis megang si blirik tadiii,”

“Alaahh, sampeyan jugaaa, ituuuh…”

Dan berdua, mereka terkekeh-kekeh, tertawa-tawa, saling melempar rumput, dan saling mengelap tangan kotor ke kaus masing-masing. Begitu terdengar Kiai Soleh berdehem, mereka pun terdiam. Amad langsung sibuk membereskan hal-hal yang sebenarnya sudah beres. Sementara Jalu langsung sibuk memamerkan bayi-bayinya si blirik pada Kiai Soleh. Mereka terdengar bercakap-cakap sebentar sampai kemudian berdua meninggalkan kandang kambing.

“Ya rawatlah si blirik dan anaknya baik-baik,” ucap Kiai Soleh sambil berjalan.

“Nggih Yai,” jawab Jalu. “Yai, terimakasih…”, lanjutnya pelan.

“Buat apa?” Kiai Soleh balas bertanya.

“Semuanya Yai…”

“Iya, iya. Berbahagialah. Bersyukurlah.” Demikian ucap Kiai Soleh sambil tersenyum. Jalu menangguk. Dalam hati tiba-tiba terasa sejuk.

**

Dan demikianlah. Kenangan adalah serupa paku-paku yang merekatkan kayu menjadi meja, kursi, dan lemari. Dan tanpa paku-paku, maka kesemuanya hanyalah tumpukan kayu biasa. Jalu paham, bahwa kenangan itulah yang menjembatani ia dan masa lalunya. Yang merekatkan ia menjadi pribadi. Begitulah ia menjaga kenangan itu di antara benak dan hatinya.

Maka jika mimpi itu kembali datang serupa hantu, Jalu merapal doa, agar keluarganya dilapangkan hidupnya di alam keabadian. Dan di setiap pagi dini hari yang penuh gigil, Jalu masih selalu mendaras al-Mulk, mengingatkan diri sendiri untuk selalu bersyukur atas segala belas kasih sang Maha Kasih yang di tangan-Nya-lah hidup dan mati manusia digenggam.

Pada jam dua yang bahkan belum sempurna, Jalu tetap terus mengaji. Sendiri. Sesekali masih ia dengar suara ibunya ikut mengaji bersamanya, bersahut-sahutan. Dan di penghabisan, dia menangkupkan kedua tangannya, mendoakan ibunya, bapaknya, saudara-saudaranya, agar Allah menjaga mereka di sebaik-baik tempat di sisi-Nya, dan sebaris doa lirih ia panjatkan untuk Kiai Soleh yang penuh kasih, yang dari kesederhanaannya Jalu merasa dicintai. Dan dengan cinta itulah, Jalu hidup. Berusaha berbahagia, dan selalu bersyukur.

Tinggalkan Balasan