“Iya, tapi berapa lama? Aduh, mana botol minum tertinggal di mobil lagi. Ibu haus banget ini.”
Yu Karti segera mengambil dua gelas yang masih bersih dan menuangkan jamu beras kencur, kemudian menyodorkan ke pasangan suami istri itu. “Jika berkenan, monggo. Barangkali ini bisa menghilangkan haus, sambil menunggu mobil bapak ibu dibeneri oleh bengkel.”

Sang istri menatap gelas yang disodorkan Yu Karti. Nampak guratan keraguan di wajahnya. “Duh, sehat nggak ini ya?” katanya lirih. Namun karena haus, gelas itu pun diterimanya.
“Terima kasih banyak, Bu,” ucap si istri sambil menerima dua gelas beras kencur dari tangan Yu Karti.
Setelah meminumnya dan mengembalikan gelas kepada Yu Karti, si perempuan menyodorkan uang dua puluh ribuan.
“Maaf, Bapak, Ibu. Saya ikhas memberikan jamu tadi untuk penghilang dahaga. Jadi tidak usah dibayar.”
“Terimalah Yu, anggap kami memesan dan membelinya tadi,” ucap si suami.
Yu Karti kekeh tidak mau menerima uangnya. “Mohon maaf, Bapak, Ibu. Saya tidak bisa menerimanya,” ucapnya sambil menyatukan tangan tanpa menolak uang tersebut.
Kebetulan hujan sudah mulai reda, meski belum berhenti benar. Yu Karti segera memberesi tenggok gendongannya dan bergegas untuk pulang.
“Bapak, Ibu, saya pulang duluan. Kasihan anak-anak menunggu di rumah.”
“Monggo Bu, matur nuwun jamunya,” sahut si wanita.
“Njih, Bu,” jawab Yu Karti. Walau masih hujan gerimis, Yu Karti nekat berjalan pulang. Jika menunggu benar-benar reda, bakal kemalaman dia sampai di rumah.
“Assalamualaikum!” Yu Karti membuka pintu kontrakannya.
“Walaikum Salam,” jawab Siti dan adik-adiknya hampir bersamaan. Nampak Siti sedang memangku adik bungsunya sambil menyuapi. Tono makan di samping Siti.
“Mak…dagangan Emak masih banyak sekali. Bagaimana ini, Mak?” ucap Siti memelas. Seandainya mereka punya kulkas, dagangan itu tidak akan terbuang karena dapat disimpan di kulkas.
“Nggak apa-apa. Insyaallah nanti ada jalan. Kalian makan sama apa?”
“Telur Mak. Masih ada sepotong. Tadi telurnya aku campur terigu, terus aku goreng, aku potong jadi empat,” jawab Siti.
Yu Karti menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. Sedih melihat kondisi anaknya. Sedih memikirkan dagangannya yang tidak laku, memikirkan besok tidak ada lagi modal untuk belanja bahan dagangan, tidak ada beras dan lauk untuk makan. Tetapi Yu Karti juga bangga pada anak-anaknya. Anak yang ditempa penderitaan.
Lepas salat Maghrib Yu Karti menyendok nasi dan mengambil sepotong telur campur tepung masakan Siti. Makanan sederhana itu terasa sangat nikmat walau susah ditelan karena sambil menahan agar air mata kesedihan tidak menetes di depan anak-anaknya. Yu Karti harus tetap tegar di depan mereka.
“Mak, besok kita sarapan apa?” Tono mengagetkannya.
“Tono mau makan apa?”
“Yang ada saja Mak.”
