“Ya sudah, Tono ke warung ya. Beli dua bungkus mi instan. Besok kita sarapan mie instan.”
***

Tidak ada yang Yu Karti dapat perbuat. Jamu dagangannya yang nyaris utuh masih di tenggok. Tadi beberapa tetangga kontrakan ditawari gratis, mereka tidak mau. Mungkin karena terlalu sering minun jamu gratis sisa dagangan dari Yu Karti.
Hanya doa dan kepasrahan mengharap pertolongan Gusti Allah yang dapat dilakukan. Meminta tolong kepada tetangga rasanya tidak mungkin. Selama ini Yu Karti sudah terlalu sering ditolong. Apalagi tetangga kontrakan juga banyak yang mengalami masalah ekonomi.
Paginya, setelah memandikan Ratna, Yu Karti menyuapinya. Terdengar suara ketukan di pintu.
“Assalamualaikum,” Pak RT yang sekaligus pemilik kontrakan datang mengagetkannya.
“Waalaikumsalam. Pak RT, maaf Pak. Sepertinya ini belum saatnya saya bayar kontrakan,” kata Yu Karti kaget melihat kedatangan Pak RT.
“Saya datang bukan untuk menagih uang kontrakan Mbakyu, ini mengantar tamu. Ada yang mencari Yu Karti. Katanya beliau tadi sudah keliling kampung sebelah menanyakan tukang jamu gendong yang biasa keliling itu tinggalnya di mana. Trus ada yang menunjukkan ke sini. Kebetulan tadi mampir rumah saya untuk menanyakan apa benar ada warga yang menjual jamu gendong keliling.”
Yu Karti nampak bingung. Siapa tamu yang dimaksud. Tidak berapa lama muncul seorang laki-laki dan perempuan menenteng plastik berisi belanjaan. Yu Karti mengamati orang tersebut dan merasa tidak kenal, namun sekilas dia merasa pernah bertemu. Mungkin salah satu langganannya. Ada apa gerangan? Apakah setelah meminum jamu dagangannya ada masalah sehingga mereka mencarinya untuk minta pertanggungjawaban.
“Maaf Pak, Bu. Benar ini yang Bapak Ibu maksud?” tanya pak RT kepada tamunya.
“Benar Pak. Ibu ini yang saya temui kemarin sore,” jawab tamu laki-laki yang ternyata bernama pak Marta.
Bu Marta menyalami Yu Karti kemudian menyerahkan plastik berisi belanjaan. “Ini untuk anak-anak Yu.” Rupanya Pak RT sudah menceritakan keadaan Yu Karti kepada kedua tamunya dan bu Marta berinisiatif membelikan beberapa keperluan dapur. Mi instan, telur, minyak goreng, dan jajanan itu diterima Yu Karti dengan mengucapkan terima kasih.
“Yu Karti,” Pak RT membuka percakapan. “Pak Marta ini tinggal di Semarang. Beliau mempunyai usaha aneka makanan dan minuman tradisional. Kedatangannya ingin mengajak Yu Karti bekerja sama.”
“Benar Yu. Setelah kemarin merasakan jamu beras kencur buatan Yu Karti, saya dan istri banyak diskusi. Sepertinya jamu Yu Karti layak untuk dipasarkan di toko kami. Kami mau mengajak Yu Karti bekerja sama. Saya meminta Yu Karti membuat jamu beras kencur dan kunyit asem masing-masing seratus botol. Satu botol ukurannya 330 ml, kira-kira dua gelas dari yang kemarin saya minum. Jika nanti laku, saya juga akan meminta Yu Karti membuat jamu yang lain,” kata Pak Marta.
“Tapi Pak, saya tidak paham buat jamu untuk dikirim jauh. Nanti jamunya basi,” jawab Yu Karti bingung.
“Yu Karti tidak usah kuatir. Tim kami akan datang untuk mengajari agar jamunya awet walau tanpa bahan pengawet. Juga cara mengemasnya agar lebih menarik,” Bu Marta menimpali.
“Ya Pak, Bu. Terima kasih banyak sebelumnya.” Nampak bingar di mata Yu Karti.
“Sebagai tahap awal, ini saya titip uang untuk membeli bahan. Hari ini Yu Karti tolong siapkan bahan-bahannya, juga alatnya. Besok siang tim saya akan datang untuk mengajari pengemasan agar jamu buatan Yu Karti awet. Juga akan bawa botol untuk kemasannya,” imbuh Pak Marta, sambil menyodorkan amplop berisi sepuluh lembar uang seratus ribuan.
“Maaf Pak, Bu. Ini uangnya banyak sekali.”
“Tidak apa-apa Yu. Kelebihannya saya titip untuk kebutuhan sehari-hari sebelum ada keuntungan dari jualan jamu di tempat kami. Saya juga bermaksud membiayai sekolah anak-anak ini,” sambung Pak Marta sambil memandang ketiga anak Yu Karti yang dari tadi ikut duduk menemui tamu-tamu itu.
“Alhamdulillah… terima kasih banyak Pak, Bu. Mungkin ini jawaban dari doa-doa saya setiap malam. Saya tidak meminta apa-apa. Saya hanya ingin anak-anak saya tidak kekurangan makan dan dapat sekolah dengan baik. Terima kasih sekali lagi nggih Pak dan Bu Marta.”
