JDS Gelar Workshop Penulisan Kreatif di Pesantren Minggir

Ia menambahkan bahwa tradisi menulis sejatinya bukan hal baru bagi pesantren. Selama berabad-abad, pesantren telah melahirkan ribuan kitab, manuskrip, syarah, nazam, hingga berbagai karya keilmuan yang menjadi bagian dari khazanah peradaban Islam.

“Melalui workshop ini kami berharap peserta tidak hanya mempelajari teknik menulis, tetapi juga belajar memandang dunia dengan lebih peka, jujur, dan bijaksana. Tulisan yang baik lahir bukan hanya dari kecakapan merangkai kata, tetapi juga dari keluasan membaca, kedalaman berpikir, dan keikhlasan berbagi ilmu,” katanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pengasuh Pondok Pesantren Minggir, KH Ahmad Muwafiq, dalam arahannya menegaskan bahwa santri harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren. Menurutnya, Internet telah menjadi ruang penyimpanan data, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang harus diisi dengan karya-karya yang bermanfaat.

“Santri tidak boleh membiarkan mata rantai keilmuan terputus hanya karena dimanjakan oleh perkembangan teknologi. Teruslah menulis dan merawat budaya literasi agar santri turut mengambil peran dalam membangun peradaban,” pesan Gus Muwafiq.

Dalam sesi materi, KH Aguk Irawan mengajak peserta melihat kembali tradisi kepenulisan yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren. Menurutnya, pesantren sejak dahulu tidak hanya melahirkan ulama yang ahli membaca kitab, tetapi juga para ulama yang meninggalkan karya-karya tulis sebagai warisan ilmu.

Tinggalkan Balasan