Jejak Sejarah Gerakan Wahabi-Salafi

Dapat diambil benang merah bahwa kehadiran Wahabi tidak lain untuk memurnikan serta mengajak umat Islam seluruh dunia untuk tidak melakukan kesalahan. Dalam pandangan Abdul Wahab, jalan kembali ke Islam yang “murni” mencakup banyak aspek. Di antaranya umat Islam tidak boleh melakukan ritual agama yang mengandung unsur perusakan Islam, seperti ajaran tasawuf, doktrin perantara (wasilah), rasionalisme, ajaran syiah, serta banyak praktik ritual agama yang dinilai merusak bangunan akidah Islam secara gradual.

Di sisi lain, Wahabisme memperlihatkan kebencian luar biasa terhadap semua bentuk intelektualisme, mistisme, dan sektarianisme dalam Islam. Paham Wahabi ini memandang semua itu sebagai inovasi yang menyimpang yang masuk ke dalam Islam karena adanya pengaruh luar Islam (baca: bid’h). Kaum Wahabi cenderung menyikapi segala bentuk ritual maupun tradisi yang datang tidak dari wilayah Arab sebagai bentuk perkara yang dicurigai dengan menyakini bahwa pengaruh yang dibawa ke ajaran Islam bersumber dari tradisi dan bangsa seperti Persia, Turki, dan Yunani (hlm 9).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kekhawatiran berlebihan terhadap pengaruh luar membuat kelompok Wahabi takut dengan pembaharuan maupun kemajuan di bidang agama. Kelompok Wahabi cenderung tertutup dari segi pemikiran semata-mata untuk melindungi dirinya dari adanya perusukan akidah dari pengaruh maupun intervensi budaya luar. Dari sini kemudian menyebabkan munculnya ciri khas Wahabi, yaitu menjunjung tinggi pemikiran eksklusif-rigid atas pemikiran maupun tradisi luar yang sejatinya bisa bersinergi dengan Islam sebagai agama maupun dengan ritual Islam.

Dalam ajarannya, Abdul Wahab terus-menerus menekankan bahwa tidak ada jalan tengah bagi seorang muslim. Dalam artian, hanya ada dua piihan yang ditawarkannya, yaitu menjadi seorang muslim yang benar-benar beriman (secara murni) atau tidak. Tentu berdasarkan penafsiran kelompoknya sendiri. Dan jika seorang muslim yang tidak beriman, dengan ukuran Abdul Wahab, maka dalam keyakinannya tidak ada sedikit pun rasa cemas untuk menyatakan bahwa si muslim tersebut telah kafir (hlm 13).

Tidak hanya persoalan teologi an sich, Abdul Wahab dengan gerakan Wahabinya juga berperan aktif dalam membangun jaringan dengan melanggengkan status quo demi kepentingan ideologisnya. Maka, pada tahun 1745 hingga 1818, Kota Dir’iyah (kota kecil bagian dari semenanjung Arab) sebagai pusat lahirnya gerakan Wahabi hancur karena serangan militer Mesir dan Turki. Akibatnya, semangat kaum Wahabi semakin menjadi-jadi dengan menjadikan hancurnya kota tersebut sebagai simbol penderitaan maupun pengorbanan mereka dalam berjuang menyebarkan ajaran Wahabi kepada umat muslim.

Tinggalkan Balasan