Dan cerita itu pun diakhiri oleh decak kagum orang-orang yang mendengarkan. Mereka kagum pada bayi yang berlayar mengikuti arus sungai. Mereka kagum pada Mak Atun yang mendapati berkah seorang anak. Mereka juga kagum pada Tuhan yang telah merencanakan semua ini.
Cerita itu pun mengembara seperti angin, tersampaikan dari mulut satu ke mulut lain. Rumah Mak Atun tak jemu-jemu dikerumuni orang yang ingin melihat langsung bayi itu. Mak Atun juga dengan senang hati menerima tamu-tamu itu. Kini, rumah Mak Atun tak lagi sepi, kendati orang-orang itu pun kembali pergi.

Yang penting, bukan bayinya yang pergi. Dengan tabungannya selama ini, Mak Atun membelikan bayi itu beraneka ragam mainan, kendati bayinya itu masih tak mengerti dan belum tahu meminta mainan. Mak Atun merawat bayi itu dengan kasih sayang berlebih, meninabobokan dengan belaian.
Tapi semua kebahagiaan Mak Atun seketika lenyap, setelah badai kesedihan datang menghantam. Badai itu berupa sosok laki-laki berjas hitam. Laki-laki itu datang ke rumah Mak Atun bersama para warga. Pak Yonia, begitulah ia menyebut namanya.
Awalnya, Mak Atun mengira laki-laki itu sekadar mampir seperti orang lain, hendak melihat bayi yang ia temukan di sungai. Namun, dugaan itu salah. Dugaan itu tertelan oleh kenyataan, kenyataan yang menyakitkan. Kenyataan yang seketika mencabik-cabik hati Mak Atun. Pak Yonia mengaku, dirinya adalah ayah dari bayi itu.
“Bohong!” Mak Atun meradang, beringas seperti macan yang terganggu oleh kehadiran laki-laki itu. “Apa buktinya?!”
Pak Yonia mengeluarkan selembar foto dari sakunya. Dalam foto itu, bayi berwajah sunguh mirip dengan bayi yang ditemukan Mak Atun bersemayam di sana. Ya betul, Pak Yonia adalah ayah kandung dari bayi itu. Ia mengambil kembali apa yang memang menjadi haknya. Ia mengambil bayi itu dari tangan Mak Atun.
Mak Atun pun menggila. Walau bagaimana pun, sekarang ia sudah merasa menjadi seorang ibu. Bila bayi itu pergi, habislah predikat ibu darinya, dan kembalilah ia pada kesepian seperti semula.
