Lelaki itu menatap lurus tepat ke manik mata si penanya. Pandangannya tajam, namun tenang seolah mampu menembus sampai ke dasar hati terdalamnya. Lelaki itu menjawab dengan tutur kata yang tetap sopan namun maknanya sangat tajam menembus tulang sumsum: “Ingatlah baik‑baik, Tuan: makhluk ciptaan Yang Mahatinggi juga memiliki rasa dan nurani kecil yang tak terlihat mata. Mereka takkan pernah mau mendekat apalagi menyentuh pemberian yang berasal dari tangan kotor, harta yang bukan hak sah pemegangnya, atau barang yang didapat lewat jalan terlarang. Mereka sanggup mengendus bau najis itu jauh sebelum akal manusia sadar akan apa yang telah ia perbuat sendiri.”
Belum sempat ia meledak marah atau membantah perkataan itu, ponsel di saku bajunya berdering nyaring memecah keheningan pagi. Di seberang sambungan telepon terdengar suara berat, dingin, dan tegas yang sangat ia kenal—bukan orang lain, melainkan Presiden sendiri. Perintahnya sangat singkat, keras, mutlak, dan tak bisa dibantah sedikit pun: “Pulanglah kembali ke tanah air hari ini juga. Naiklah pesawat tercepat yang ada. Lakukan sekarang juga, tanpa penundaan sedetik pun!”

Alih‑alih merasa curiga atau gelisah, hatinya justru melonjak meluap kegembiraan buta. “Pasti ini kabar baik terbesar! Beliau pasti rindu padaku, pasti hendak menyambutku dengan pelukan hangat, menaikkan pangkatku lebih tinggi lagi, serta mengukuhkan kekuasaanku selamanya tanpa gangguan!” batinnya bersorak riang. Ia seketika melupakan pertanyaan yang baru saja ia ajukan serta jawaban penuh teguran yang diterimanya. Ia berkemas segala barang dengan terburu‑buru, berpamitan singkat, lalu meninggalkan Tanah Suci dengan hati penuh harap kosong melompong.
Ia baru saja telapak kakinya menginjak tanah kelahirannya. Tak ada upacara penyambutan. Tak ada senyum ramah, tak ada pelukan persahabatan—yang disodorkan kepadanya hanyalah selembar surat resmi berkop negara, bertuliskan huruf besar berwarna hitam pekat: SURAT PEMBERHENTIAN TIDAK TERHORMAT DARI JABATAN NEGARA. Kakinya seketika lemas tak bertulang, pandangannya kabur perlahan menjadi gelap gulita; rasanya seolah langit dan bumi runtuh serentak menimpa tubuhnya yang dulu angkuh dan berkuasa itu.
Belum hilang rasa pusing, perih, dan hancur yang melanda hatinya, malam harinya tepat saat ia baru saja masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat‑rapat, terdengar ketukan keras berirama menggelegar hingga dinding rumah ikut bergetar. Pintu didobrak terbuka paksa. Masuklah sekelompok petugas lengkap berseragam dan membawa surat perintah sah dari lembaga hukum. Di hadapan istri serta anak‑anaknya yang menangis tersedu‑sedu karena kaget dan takut, ia ditangkap dengan tuduhan resmi melakukan korupsi besar‑besaran, penggelapan dana publik, serta menerima aliran uang gelap yang jumlahnya persis sama ratusan miliar rupiah—jumlah yang entah asalnya dari mana masuk ke rekening pribadinya sebulan sebelum keberangkatan ibadah suci itu.
***
Saat kedua tangannya dibelenggu dengan rantai besi dingin yang kasar, tiba‑tiba segala kepingan peristiwa yang terpisah itu menyatu menjadi satu kebenaran yang tajam menyayat hati. Ia teringat kembali pelataran masjid yang luas namun kosong melompong, ribuan burung yang tak mau menampakkan diri sedikit pun, serta jawaban tenang lelaki asing yang seolah sudah mengetahui semuanya sejak semula.
“Jadi begitulah rahasianya… Mereka menolak mendekat dan menolak memakan apa yang kuberikan karena makanan itu dibeli persis menggunakan uang haram, barang curian, harta yang sama sekali bukan milikku! Bahkan makhluk kecil tak berakal pun bisa mencium bau noda dosa itu, padahal aku sendiri berani berlagak suci dan beribadah menggunakannya!”
