***
Hingga tiba satu malam yang udaranya terasa berat, pekat, dan penuh tekanan tak beralasan. Ia terlelap dalam kegelisahan yang luar biasa hebat. Dalam tidurnya, datanglah mimpi yang begitu nyata hingga terasa persis seperti kejadian sungguhan. Sekawanan gajah raksasa berbadan besar, berkulit tebal kasar, melangkah kencang hingga bumi di bawahnya bergetar hebat, menyerbu masuk ke gedung kantor kebanggaannya, merubuhkan tembok kokoh dan atap megahnya, menginjak‑injak meja kerjanya sampai hancur luluh lantak, lalu salah satu kaki raksasa yang beratnya setara bukit batu menindih tepat ke dada dan lehernya sendiri. Napasnya tercekik mati, tulang‑tulangnya remuk tak berdaya, ia tewas terbenam di bawah beban kekuasaannya sendiri.

Ia tersentak bangun seketika, melompat tegak dengan napas tersengal berat. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya hingga pakaian dan alas tidurnya basah kuyup lengket. Jantung berpacu liar seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya.
Istrinya yang tidur di sampingnya pun terbangun kaget bukan main, segera mendekap bahunya yang masih gemetar hebat, mengusap peluh dingin di dahinya dengan kain halus, lalu berusaha meredakan ketakutan itu dengan kata‑kata lembut. “Tenanglah, Suamiku sayang… itu hanyalah mimpi buruk belaka, tak ada bahaya nyata yang mengancammu di sini. Kau aman dan terlindungi,” bisiknya tulus sepenuh hati tanpa curiga sedikit pun. Ia tak pernah menyadari bahwa ketakutan yang melanda suaminya itu bukan tanpa sebab, melainkan pantulan gelap dari segala kejahatan yang telah ia sembunyikan rapat‑rapat di dalam dadanya sendiri.
Keesokan paginya, demi melenyapkan sisa rasa ngeri yang masih menempel kuat di sanubarinya, ia berjalan menuju pelataran luas Masjidil Haram. Ia membawa segenggam penuh biji‑bijian pilihan yang mahal harganya—dibeli persis menggunakan uang ratusan miliar rupiah yang baru saja masuk ke rekeningnya itu. Ia berniat menaburkannya di lantai agar burung‑burung merpati yang biasa berkerumun di sana datang berebut makan; pemandangan yang sering didengar orang sangat damai dan menenteramkan jiwa yang gelisah.
Namun apa yang justru ia temukan membuat bulu kuduknya berdiri tegak kaget: tak seekor pun burung tampak terlihat. Langit biru bersih kosong melompong, lantai marmer putih luas terbentang sepi senyap, tak ada kepakan sayap, tak ada suara ciap, tak ada jejak sedikit pun keberadaan mereka. Keheningan itu kaku dan dingin, persis seperti suasana tanah pekuburan yang baru saja dikunjungi. Ia berjalan keliling ke segala penjuru halaman, menengok ke sudut‑sudut tersembunyi, namun tetap tak ada tanda kehidupan burung sama sekali.
***
Dengan wajah masam, dahi berkerut dalam, dan nada suara kasar penuh ketidaksabaran, ia menghampiri seorang lelaki penduduk asli yang duduk tenang di pinggir jalan, berpakaian sederhana namun rapi, wajahnya bersinar damai dan meneduhkan siapa pun yang memandangnya. “Hei kau, penduduk tempat! Jawab aku dengan jujur—ke mana perginya ribuan burung yang biasa riuh rendah berkerumun di sini setiap pagi? Kenapa hari ini tempat ini kosong melompong tak berpenghuni begini?!” tanyanya dengan nada menuntut tanpa rasa hormat sedikit pun.
