Selama belasan tahun lamanya ia mengeruk dan menimbun harta keping demi keping. Untuk itu, ia menahan segala kebutuhan hidup, menekan setiap keinginan hatinya, seakan seluruh napas dan tenaga hidupnya hanya ditujukan kepada satu tujuan tunggal: mengumpulkan cukup kekayaan demi melangkahkan kaki ke Tanah Suci. Ia menganggap perjalanan itu semacam urusan dagang kaku—kalau sudah membayarnya lunas, maka ampunan dan kemuliaan pasti diserahkan kepadanya mutlak tanpa syarat apa pun.
Uang itu dikumpulkan perlahan, kian menumpuk bak gundukan tanah yang makin meninggi, namun belum cukup besar menurut ukuran kemewahan yang ia inginkan—sampai sebulan tepat sebelum hari keberangkatan yang sudah lama ia jadwalkan, tiba‑tiba masuklah kiriman dana lewat saluran rahasia. Angka yang terpampang nyata di layar perangkat itu ratusan miliar rupiah. Nilainya tak terbayangkan akal sehat, dikirim begitu saja oleh rekan kerjanya tanpa keterangan asal, tanpa bukti sah, tanpa tanda terima, tanpa pertanyaan apa pun yang diajukan.

Hatinya melonjak liar kegirangan; tak ada rasa curiga, tak ada rasa takut, tak ada rasa ingin tahu dari mana asalnya tumpukan harta itu. Baginya yang terpenting pundi‑pundinya kini meluap berlebih, impian lama terwujud bahkan jauh melampaui harapan. Akal budinya lenyap disapu habis oleh nafsu buta yang mendadak menguasai seluruh sanubarinya.
Hari yang ditunggu‑tunggu akhirnya tiba juga. Ia berangkat mengenakan pakaian terbaik yang bisa dibeli, berjalan tegak penuh keangkuhan, didampingi istrinya yang sederhana, lemah lembut, dan polos—tak tahu menahu sedikit pun tentang asal‑usul kekayaan mendadak yang melimpah itu. Di pesawat yang melayang tinggi menembus awan kelabu, ia mengangkat kedua tangan ke angkasa, berdoa dengan suara lantang dan nada bangga, berseru bahagia karena akhirnya dipanggil menjadi tamu Allah Yang Maha Penguasa Alam Semesta.
Namun di balik rangkaian pujian manis yang diucapkannya, hatinya tertutup noda gelap pekat: setiap kalimat doa itu sesungguhnya kedok belaka. Yang paling dalam ia rintihkan dan mohonkan bukanlah kesucian jiwa atau pengampunan dosa, melainkan agar jabatan tinggi, kekuasaan luas, serta kedudukan istimewa yang kini digenggamnya tak pernah lepas sedikit pun dari tangannya.
Ia penuh firasat buruk dan kecurigaan buta: meyakini semua orang di sekelilingnya berniat jahat, berkerumun bak kawanan serigala kelaparan yang mengintai celah sekecil apa pun, berencana mengkudeta kedudukannya, menjatuhkannya, lalu merampas segala apa yang telah ia miliki.
“Kukuhkanlah aku di kursi kekuasaan itu, Wahai Tuhanku! Hancurkan siapa saja yang berniat menggeser atau menjatuhkanku! Jangan biarkan niat busuk mereka berhasil, karena semua kedudukan dan kemuliaan ini sudah menjadi hak mutlakku!” desisnya berulang‑ulang dalam hati. Bukan lagi memohon petunjuk jalan yang lurus, melainkan menuntut perlindungan demi kekuasaan duniawi yang penuh noda dan dosa.
Sepanjang hari‑hari ia berdiam di tanah Mekkah yang suci, berpindah pula ke Kota Nabi di Madinah, setiap gerak ibadahnya—mulai dari thawaf, salat, hingga berdoa di tempat yang mulia—selalu berujung pada permohonan yang sama persis. Mempertahankan kekuasaan, menjauhkan pesaing, memastikan tak ada satu pun makhluk yang mampu mengganggu kedudukannya. Ia datang bukan untuk membersihkan diri dari kotoran hati, melainkan berniat memohon agar segala perbuatan kelamnya dilindungi dan dibiarkan berlangsung terus tanpa gangguan sedikit pun.
***
Hingga tiba satu malam yang udaranya terasa berat, pekat, dan penuh tekanan tak beralasan. Ia terlelap dalam kegelisahan yang luar biasa hebat. Dalam tidurnya, datanglah mimpi yang begitu nyata hingga terasa persis seperti kejadian sungguhan. Sekawanan gajah raksasa berbadan besar, berkulit tebal kasar, melangkah kencang hingga bumi di bawahnya bergetar hebat, menyerbu masuk ke gedung kantor kebanggaannya, merubuhkan tembok kokoh dan atap megahnya, menginjak‑injak meja kerjanya sampai hancur luluh lantak, lalu salah satu kaki raksasa yang beratnya setara bukit batu menindih tepat ke dada dan lehernya sendiri. Napasnya tercekik mati, tulang‑tulangnya remuk tak berdaya, ia tewas terbenam di bawah beban kekuasaannya sendiri.
Ia tersentak bangun seketika, melompat tegak dengan napas tersengal berat. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya hingga pakaian dan alas tidurnya basah kuyup lengket. Jantung berpacu liar seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya.
Istrinya yang tidur di sampingnya pun terbangun kaget bukan main, segera mendekap bahunya yang masih gemetar hebat, mengusap peluh dingin di dahinya dengan kain halus, lalu berusaha meredakan ketakutan itu dengan kata‑kata lembut. “Tenanglah, Suamiku sayang… itu hanyalah mimpi buruk belaka, tak ada bahaya nyata yang mengancammu di sini. Kau aman dan terlindungi,” bisiknya tulus sepenuh hati tanpa curiga sedikit pun. Ia tak pernah menyadari bahwa ketakutan yang melanda suaminya itu bukan tanpa sebab, melainkan pantulan gelap dari segala kejahatan yang telah ia sembunyikan rapat‑rapat di dalam dadanya sendiri.
Keesokan paginya, demi melenyapkan sisa rasa ngeri yang masih menempel kuat di sanubarinya, ia berjalan menuju pelataran luas Masjidil Haram. Ia membawa segenggam penuh biji‑bijian pilihan yang mahal harganya—dibeli persis menggunakan uang ratusan miliar rupiah yang baru saja masuk ke rekeningnya itu. Ia berniat menaburkannya di lantai agar burung‑burung merpati yang biasa berkerumun di sana datang berebut makan; pemandangan yang sering didengar orang sangat damai dan menenteramkan jiwa yang gelisah.
Namun apa yang justru ia temukan membuat bulu kuduknya berdiri tegak kaget: tak seekor pun burung tampak terlihat. Langit biru bersih kosong melompong, lantai marmer putih luas terbentang sepi senyap, tak ada kepakan sayap, tak ada suara ciap, tak ada jejak sedikit pun keberadaan mereka. Keheningan itu kaku dan dingin, persis seperti suasana tanah pekuburan yang baru saja dikunjungi. Ia berjalan keliling ke segala penjuru halaman, menengok ke sudut‑sudut tersembunyi, namun tetap tak ada tanda kehidupan burung sama sekali.
***
Dengan wajah masam, dahi berkerut dalam, dan nada suara kasar penuh ketidaksabaran, ia menghampiri seorang lelaki penduduk asli yang duduk tenang di pinggir jalan, berpakaian sederhana namun rapi, wajahnya bersinar damai dan meneduhkan siapa pun yang memandangnya. “Hei kau, penduduk tempat! Jawab aku dengan jujur—ke mana perginya ribuan burung yang biasa riuh rendah berkerumun di sini setiap pagi? Kenapa hari ini tempat ini kosong melompong tak berpenghuni begini?!” tanyanya dengan nada menuntut tanpa rasa hormat sedikit pun.
Lelaki itu menatap lurus tepat ke manik mata si penanya. Pandangannya tajam, namun tenang seolah mampu menembus sampai ke dasar hati terdalamnya. Lelaki itu menjawab dengan tutur kata yang tetap sopan namun maknanya sangat tajam menembus tulang sumsum: “Ingatlah baik‑baik, Tuan: makhluk ciptaan Yang Mahatinggi juga memiliki rasa dan nurani kecil yang tak terlihat mata. Mereka takkan pernah mau mendekat apalagi menyentuh pemberian yang berasal dari tangan kotor, harta yang bukan hak sah pemegangnya, atau barang yang didapat lewat jalan terlarang. Mereka sanggup mengendus bau najis itu jauh sebelum akal manusia sadar akan apa yang telah ia perbuat sendiri.”
Belum sempat ia meledak marah atau membantah perkataan itu, ponsel di saku bajunya berdering nyaring memecah keheningan pagi. Di seberang sambungan telepon terdengar suara berat, dingin, dan tegas yang sangat ia kenal—bukan orang lain, melainkan Presiden sendiri. Perintahnya sangat singkat, keras, mutlak, dan tak bisa dibantah sedikit pun: “Pulanglah kembali ke tanah air hari ini juga. Naiklah pesawat tercepat yang ada. Lakukan sekarang juga, tanpa penundaan sedetik pun!”
Alih‑alih merasa curiga atau gelisah, hatinya justru melonjak meluap kegembiraan buta. “Pasti ini kabar baik terbesar! Beliau pasti rindu padaku, pasti hendak menyambutku dengan pelukan hangat, menaikkan pangkatku lebih tinggi lagi, serta mengukuhkan kekuasaanku selamanya tanpa gangguan!” batinnya bersorak riang. Ia seketika melupakan pertanyaan yang baru saja ia ajukan serta jawaban penuh teguran yang diterimanya. Ia berkemas segala barang dengan terburu‑buru, berpamitan singkat, lalu meninggalkan Tanah Suci dengan hati penuh harap kosong melompong.
Ia baru saja telapak kakinya menginjak tanah kelahirannya. Tak ada upacara penyambutan. Tak ada senyum ramah, tak ada pelukan persahabatan—yang disodorkan kepadanya hanyalah selembar surat resmi berkop negara, bertuliskan huruf besar berwarna hitam pekat: SURAT PEMBERHENTIAN TIDAK TERHORMAT DARI JABATAN NEGARA. Kakinya seketika lemas tak bertulang, pandangannya kabur perlahan menjadi gelap gulita; rasanya seolah langit dan bumi runtuh serentak menimpa tubuhnya yang dulu angkuh dan berkuasa itu.
Belum hilang rasa pusing, perih, dan hancur yang melanda hatinya, malam harinya tepat saat ia baru saja masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat‑rapat, terdengar ketukan keras berirama menggelegar hingga dinding rumah ikut bergetar. Pintu didobrak terbuka paksa. Masuklah sekelompok petugas lengkap berseragam dan membawa surat perintah sah dari lembaga hukum. Di hadapan istri serta anak‑anaknya yang menangis tersedu‑sedu karena kaget dan takut, ia ditangkap dengan tuduhan resmi melakukan korupsi besar‑besaran, penggelapan dana publik, serta menerima aliran uang gelap yang jumlahnya persis sama ratusan miliar rupiah—jumlah yang entah asalnya dari mana masuk ke rekening pribadinya sebulan sebelum keberangkatan ibadah suci itu.
***
Saat kedua tangannya dibelenggu dengan rantai besi dingin yang kasar, tiba‑tiba segala kepingan peristiwa yang terpisah itu menyatu menjadi satu kebenaran yang tajam menyayat hati. Ia teringat kembali pelataran masjid yang luas namun kosong melompong, ribuan burung yang tak mau menampakkan diri sedikit pun, serta jawaban tenang lelaki asing yang seolah sudah mengetahui semuanya sejak semula.
“Jadi begitulah rahasianya… Mereka menolak mendekat dan menolak memakan apa yang kuberikan karena makanan itu dibeli persis menggunakan uang haram, barang curian, harta yang sama sekali bukan milikku! Bahkan makhluk kecil tak berakal pun bisa mencium bau noda dosa itu, padahal aku sendiri berani berlagak suci dan beribadah menggunakannya!”
Barulah saat itu air mata penyesalan yang sejati jatuh membasahi pipi kasarnya. Namun kesadaran itu datang sudah terlambat jauh sekali untuk menebus segala apa yang telah rusak. Kini ia paham sepenuhnya jawaban atas pertanyaan yang dulu ia ajukan dengan nada kasar itu: ke mana perginya burung‑burung itu? Mereka pergi menjauh karena tangan yang hendak berbuat kebaikan ternyata sudah kotor terlebih dahulu.
